Bab IV
Hakikat Apa Yang Dikaji
- Metafisika
Sejak lama, istilah “metafisika” dipergunakan di Yunani untuk menunjukkan karya-karya tertentu Aristoteles. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, meta ta physika yang berarti “hal-hal yang terdapat sesudah fisika”. Aristoteles mendefinisikan sebagai ilmu pengetahuan mengenai yang ada sebagai yang-ada sebagai yang-ada, yang dilawankan, misalnya, dengan yang-ada sebagai yang digerakkan atau yang-ada sebagai yang dijumlahkan. Dewasa ini metafisika dipergunakan baik untuk menunjukkan filsafat pada umumnya maupun acapkali untuk menunjukkan cabang filsafat yang mempelajari pertanyaan-pertanyaan terdalam. Namun secara singkat banyak yang menyebutnya sebagai metafisika sebagai studi tentang realitas dan tentang apa yang nyata. Terkadang metafisika ini sering disamakan dengan “ontology” (hakikat ilmu). Namun demikian, Anton Bakker[1] membedakan antara metafisika dan ontology. Menurutnya, istilah “metafisika” tidak menunjukkan bidang ekstensif atau objek material tertentu dalam penelitian, tetapi mengenai suatu inti yang termuat dalam setiap kenyataan, ataupun suatu unsure formal. Inti itu hanya tersentuh pada taraf penelitian paling fundamental, dan dengan metode tersendiri. Maka nama “metafisika” menunjukkan nivo pemikiran, dan merupakan refleksi filosofis mengenai kenyataan yang secara mutlak paling mendalam dan paling ultimate. Sedangkan ontology yang menjadi objek material bagi filsafat pertama itu terdiri dari segala yang ada.
Metafisika sering juga disebut sebagai “filsafat pertama”. Maksudnya, ialah ilmu yang menyelidiki apa hakikat di balik alam nyata ini. Sering juga disebut sebagai “filsafat tentang hal yang ada”. Persoalannya ialah menyelidiki hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata dengan tidak terbatas pada apa yang dapat ditangkap panca indera saja. Aristoteles memandang metafisika sebagai filsafat pertama. Istilah “pertama” tidak berarti, bahwa bagian filsafat ini harus ditempatkan di depan, tetapi menunjukkan kedudukan atau pentingnya. Filsafat pertama menyelidiki pengandaian-pengandaian paling mendalam dan paling akhir dalam pengetahuan manusiawi yang mendasari segala macam pengetahuan lainnya. Aristoteles mengatakan bahwa menurut kodratnya setiap orang memiliki keinginan mengetahui sesuatu. Pengetahuan khusus yang ingin ia definisikan dalam tulisannya tentang metafisika adalah pengetahuan tentang sebab-sebab pertama, yaitu pengetahuan yang mendasari dan mengatasi ilmu-ilmu pengetahuan yang lain dan menuntun manusia untuk mencapai sumber tertinggi dari gerakan dan kehidupan.
Secara umum metafisika adalah suatu pembahasan filsafat yang komprehensif mengenai seluruh realitas atau tentang segala sesuatu yang “ada” (being). Yang dimaksud dengan “ADA” ialah semua yang ada baik yang ada secara mutlak, ada tidak mutlak, maupun ada dalam kemungkinan. Ilmu ini bertanya apakah hakikat kenyataan itu sebenar-benarnya? Jadi, metafisika ini mempersoalkan asal dan struktur alam semesta. Untuk mengetahui asal dan struktur alam semesta, hampir semua kitab suci agama (terutama Islam, Kristen, dan Yahudi) menjelaskannya dengan sangat baik mengenai penciptaan alam semesta. Kata “penciptaan” memiliki pengertian dari tidak ada menjadi ada (baru sama sekali), yang dikenal dengan istilah creatio ex nihilo. Asal mula alam semesta adalah karena diciptakan oleh Allah, tanpa Allah, tidak ada keberadaan (being).
Jujun S Sumantri mengatakan, “bidang telaah filsafat yang disebut metafisika ini merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran ilmiyah. Diibaratkan bila fikiran adalah roket yang meluncur ke bintang-bintang, menembus galaksi, dan awan, maka metafisika adalah dasar peluncurannya.[2] Secara umum metafisika dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
- Metafisika umum (yang disebut ontology)
- Metafisika khusus (yang disebut konsmologi)
Metafisika umum (ontology) berbicara tentang segala sesuatu sekaligus. Perkataan ontology berasal dari bahasa Yunani yang berarti “yang ada” dan sekali lagi, logos. Maka objek material dari bagi filsafat umum itu terdiri dari segala-gala yang ada. Pertanyaan-pertanyaan dari ontology, misalnya:
- Apakah kenyataan merupakan kesatuan atau tidak?
- Apakah alam raya merupakan peredaran abadi di mana semua gejala selalu kembali, seperti dalam siklus musim-musim, atau justru suatu proses perkembangan?
Sedangkan metafisika khusus (kosmologi) adalah ilmu pengetahuan tentang struktur alam semesta yang membicarakan tentang ruang, waktu, dan gerakan. Kosmologi berasal dari kata “kosmos” yang berarti dunia atau ketertiban, lawan dari “chaos” atau kacau balau, dan “logos” adalah ilmu atau percakapan. Jadi, kosmologi adalah ilmu tentang dunia dan ketertiban yang paling fundamental dari seluruh realitas.
Ontology membicarakan azaz-azaz rasional dari yang-ada, sedangkan kosmologi membicarakan azaz-azaz dari yang-ada yang teratur. Ontology berusaha untuk mengetahui esensi yang terdalam dari yang-ada, sedangkan kosmologi berusaha untuk mengetahui ketertibannya serta susunannya. Materialisme adalah ajaran ontology yang mengatakan bahwa yang ada terdalam bersifat materi. Menurut Prof. Sutan Takdir Alisjahbana metafisika itu dibagi atas dua bagian besar, yaitu metafisika kuantitas dan metafisika kualitas.[3] Skemanya adalah sebagai berikut:
Pluralisme: aliran yang berpendapat unsure pokok
Metafisika hakikat kenyataan ini adalah banyak
Tetap Materialisme, hakikat itu bersifat materi
Teleologi: kej. Yang satu saling berhubungan
Kejadian Determinisme: takdir
Interdeminisme: manusia bebas
B. Asumsi
Salah satu permasalahan di dalam dunia filsafat yang menjadi perenungan para filsuf adalah masalah gejala alam. Mereka menduga-duga apakah gejala dalam alam ini tunduk kepada determinisme, yakni hokum alam yang bersifat universal, ataukah hukum semacam itu tidak terdapat sebab setiap gejala merupakan pilihan bebas, ataukah keumuman itu memang ada namun berupa peluang, sekedar tangkapan probabilistic? Ketiga masalah ini yakni determinisme, pilihan bebas, dan probabilistic merupakan permasalahan filsafat yang rumit namun menarik, tanpa mengenal ketiga aspek ini, serta bagaimana ilmu sampai pada pemecahan masalah yang merupakan kompromi, akan sukar bagi kita untuk mengenal hakikat keilmuan dengan baik.
Jadi, marilah kita asumsikan saja bahwa hukum yang mengatur berbagai kejadian itu memang ada, sebab tanpa asumsi ini maka semua pembicaraan akan sia-sia. Hukum di sini diartikan sebagai suatu aturan main atau pola kejadian yang dikuti oleh sebagian besar peserta, gejalanya berulangkali dapat diamati yang tiap kali memberikan hasil yang sama, yang dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa hukum seperti itu berlaku kapan saja dan di mana saja.
Paham diterminisme dikembangkan oleh William Hamilton (1788-1856) dari doktrin Thomas Hobbes (1588-1679) yang menyimpulkan bahwa pengetahuan adalah bersifat empiris yang dicerminkan oleh zat dan gerak universal. Aliran filsafat ini merupakan lawan dari faham fatalisme yang berpendapat bahwa segala kejadian ditentukan oleh nasib yang telah ditetapkan lebih dahulu. Demikian juga paham determinisme ini bertentangan dengan penganut pilihan bebas yang menyatakan bahwa semua manusia memiliki kebebasan dalam menentukan pilihannya tidak terikat dengan hukum alam yang tidak memberikan elternatif pilihan.
Untuk meletakkan ilmu dalam perspektif filsafat ini marilah kita bertanya kepada diri sendiri apakah yang sebenarnya yang ingin dipelajari ilmu. Apakah ilmu ingin mempelajari hukum kejadian yang berlaku bagi seluruh manusia seperti yang dicoba dijangkau dalam ilmu-ilmu social, ataukah cukup yang berlaku bagi sebagian besar dari mereka? Atau bahkan mungkin kita tidak mempelajari hal-hal yang berlaku umum melainkan cukup mengenai tiap individu belaka?
Konsekuensi dari pilihan adalah jelas, sebab sekiranya kita memilih hukum dari kejadian yang berlaku bagi seluruh manusia, maka kita harus bertolak dari paham determinisme. Sekiranya kita memilih hukum kejadian yang bersifat khas bagi tiap individu manusia maka kita berpaling kepada paham pilihan bebas. Sedangkan posisi tengah yang terletak di antara keduanya mengantarkan kita kepada paham yang bersifat probabilistic.
Sebelum kita menentukan pilihan marilah kita merenung sejenak dan berfilsafat. Sekiranya ilmu ingin menghasilkan hukum yang kebenarannya bersifat mutlak maka apakah tujuan ini cukup realistis untuk dicapai ilmu? Mungkin kalau sasaran ini yang dibidik ilmu maka khasanah pengetahuan ilmiyah hanya terdiri dari beberapa gelintir pernyataan yang bersifat universal saja. Demikian juga, sekiranya sifat universal semacam ini disyaratkan ilmu bagaimana kita dapat memenuhinya, disebabkan kemampuan manusia yang tidak mungkin mengalami semua kejadian.
Namun para ilmuwan memberi suatu kompromi, artinya ilmu merupakan pengetahuan yang berfungsi membantu manusia dalam memecahkan kehidupan praktis sehari-hari, dan tidak perlu memiliki kemutlakan seperti agama yang berfungsi memberikan pedoman terhadap hal-hal yang paling hakiki dalam kehidupan ini. Walaupun demikian sampai tahap tertntu ilmu perlu memiliki keabsahan dalam melakukan generalisasi, sebab pengetahuan yang bersifat personal dan individual seperti, upaya seni, tidaklah bersifat praktis. Jadi di antara kutub determinisme dan pilihan bebas ilmu menjatuhkan pilihannya terhadap penafsiran probabilistic.
- Peluang
Peluang secara sederhana diartikan sebagai probabilitas. Peluang 0.8 secara sederhana dapat diartikan bahwa probabilitas untuk suatu kejadian tertentu adalah 8 dari 10 (yang merupakan kepastian). Dari sudut keilmuan hal tersebut memberikan suatu penjelasan bahwa ilmu tidak pernah ingin dan tidak pernah berpretensi untuk mendapatkan pengetahuan yang bersifat mutlak. Tetapi ilmu memberikan pengetahuan sebagai dasar bagi manusia untuk mengambil keputusan, di mana keputusan itu harus didasarkan kepada kesimpulan ilmiyah yang bersifat relative. Dengan demikian maka kata akhir dari suatu keputusan terletak di tangan manusia pengambil keputusan itu dan bukan pada teori-teori keilmuan.
- Beberapa Asumsi Dalam Ilmu
Ilmu yang termasuk paling maju dibandingkan dengan ilmu lain adalah fisika. Fisika merupakan ilmu teoritis yang dibangun di atas system penalaran deduktif yang meyakinkan serta pembuktian induktif yang mengesankan. Namun sering dilupakan orang bahwa fisika pun belum merupakan suatu kesatuan konsep yang utuh. Artinya, fisika belum merupakan pengetahuan ilmiyah yang tersusun secara sistematik, semantic, konsisten, dan analitik berdasarkan pernyataan-pernyataan ilmiyah yang disepakati bersama. Di mana terdapat celah-celah perbedaan dalam fisika? Perbedaannya justru terletak dalam fondasi di mana dibangun teori ilmiyah di atasnya yakni dalam asumsi tentang dunia fisiknya. Begitu juga sebaliknya dengan imu-ilmu lain yang juga termasuk ilmu-ilmu social.
Kemudian pertanyaan yang muncul dari pertanyaan di atas adalah apakah kita perlu membuat kotak-kotak dan pembatasan dalam bentuk asumsi yang kian sempit? Jawabannya adalah sederhana sekali, sekiranya ilmu ingin mendapatkan pengetahuan yang bersifat analitis, yang mampu menjelaskan berbagai kaitan dalam gejala yang tertangguk dalam pengalaman manusia, maka pembatasan ini adalah perlu. Suatu permasalahan kehidupan manusia seperti membangun pemukiman di Jabotabek tidak bisa dianalisis secara cermat dan seksama oleh hanya satu disiplin ilmu saja. Masalah yang rumit ini, seperti juga rumitnya kehidupan yang dihadapi manusia, harus dilihat sepotong demi sepotong dan selangkah demi selangkah. Berbagai disiplin keilmuan dengan asumsinya masing-masing tentang manusia mencoba mendekati permasalahan tersebut. Ilmu-ilmu ini bersifat otonom dalam bidang pengkajiannya masing-masing dan “berfederasi” dalam suatu pendekatan multidisipliner, (jadi bukan “fusi” dengan penggabungan asumsi yang kacau balau).
Dalam mengembangkan asumsi ini maka harus diperhatikan beberapa hal:
a. Asumsi ini harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disiplin keilmuan. Asumsi ini harus operasional dan merupakan dasar dari pengakajian teoritis
b. Asumsi ini harus disimpulkan dari ‘keadaan sebagaimana adanya’ bukan ‘bagaimana keadaan yang seharusnya’. Asumsi yang pertama adalah asumsi yang mendasari telaah ilmiyah, sedangkan asumsi kedua adalah asumsi yang mendasari telaah moral
Seorang ilmuwan harus benar-benar mengenal asumsi yang dipergunakan dalam analisis keilmuannya, sebab mempergunakan asumsi yang berbeda, maka berarti berbeda pula konsep pemikiran yang digunakan. Sering kita jumpai bahwa asumsi yang melandasi suatu kajian keilmuan tidak bersifat tersurat melainkan tersirat. Asumsi yang tersirat ini kadang-kadang menyesatkan, sebab selalu terdapat kemungkinan bahwa kita berbeda penafsiran tentang sesuatu yang tidak dinyatakan, oleh karena itu maka untuk pengkajian ilmiyah yang lugas lebih baik dipergunakan asumsi yang tegas. Sesuatu yang belum tersurat dianggap belum diketahui atau belum mendapat kesamaan pendapat. Pernyataan semacam ini jelas tidak akan ada ruginya, sebab sekiranya kemudian ternyata asumsinya adalah cocok maka kita tinggal memberikan informasi, sedangkan jika ternyata mempunyai asumsi yang berbeda maka dapat diusahakan pemecahannya.
- Batas-Batas Penjelajahan Ilmu
Apakah batas yang merupakan lingkup penjelajahan ilmu? Di manakah ilmu berhenti dan menyerahkan pengkajian selanjutnya kepada pengetahuan lain? Apakah yang menjadi karakteristik objek ontology ilmu yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya? Jawaban dari semua pertanyaan itu adalah sangat sederhana, ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti pada batas pengalaman manusia. Jadi ilmu tidak mempelajari masalah syurga ataupun neraka dan juga tidak mempelajari sebab musabab kejadian terjadinya manusia, sebab kejadian itu berada di luar jangkauan pengalaman manusia.
Mengapa ilmu hanya membatasi daripada hal-hal yang berbeda dalam pengalaman kita? Jawabnya terletak pada fungsi ilmu itu sendiri dalam kehidupan manusia, yakni sebagai alat pembantu manusia dalam menanggulangi masalah yang dihadapi sehari-hari. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris. Sekiranya ilmu memasukkan daerah di luar batas pengalaman empirisnya, bagaimanakah kita melakukan suatu kontradiksi yang menghilangkan kesahihan metode ilmiyah?
Kalau begitu maka sempit sekali batas jelajah ilmu, kata seseorang, hanya sepotong dari sekian permasalahan kehidupan. Memang demikian, jawab filsuf ilmu, bahkan dalam batas pengalaman manusiapun, ilmu hanya berwenang dalam menentukan benar atau salahnya suatu pernyataan. Tentang baik dan buru, semua berpaling kepada sumber-sumber etika, tentang indah dan jelek semua berpaling kepada pengkajian estetika. Ruang penjelajahan keilmuan kemudian kita ‘kapling-kapling’ dalam berbagai disiplin keilmuan. Kapling ini makin lama makin sempit sesuai dengan perkembangan kuantitatif disiplin keilmuan. Kalau pada fase permulaan hanya terdapat ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu social maka sekarang ini terdapat lebih dari 650 cabang keilmuan.
1. Ruang Lingkup Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu sampai tahun sembilan puluhan telah berkembang begitu pesat sehingga menjadi suatu bidang pengetahuan yang amat luas dan begitu mendalam. Lingkupan filsafat ilmu berkembang begitu pesat sehingga menjadi suatu bidang pengetahuan yang amat luas dan mendalam. Lingkupan filsafat ilmu sebagaimana telah dibahas oleh para filsuf dewasa ini dapat dikemukakan secara ringkas seperti di bawah ini:
- Peter Angeles
Menurutnya, filsafat ilmu memiliki empat bidang konsentrasi utama:
- Telaah mengenai berbagai konsep, praanggapan, dan metode ilmu, berikut analisis, perluasan, dan penyusunannya untuk memperoleh pengetahuan yang lebih ajeg dan cermat
- Telaah dan pembenaran mengenai proses penalaran dalam ilmu berikut struktur perlambangnya
- Telaah mengenai kaitan di antara berbagai ilmu
- Telaah mengenai akibat-akibat pengetahuan ilmiyah bagi hal-hal yang berkaitan dengan penyerapan dan pemahaman manusia terhadap realitas, hubungan logika dan matematika dengan realitas, entitas teoritis, sumber dan keabsahan pengetahuan, serta sifat dasar kemanusiaan.
- A. Cornelius Benjamin
Filsuf ini membagi pokok soal filsafat ilmu dalam tiga bidang:
· Telaah mengenai metode ilmu, lambing ilmiyah, dan strukturlogis dari system perlambang ilmiyah. Telaah ini banyak menyangkut logika dan teori pengetahuan, serta teori umum tentang tanda
· Penjelasan mengenai konsep dasar, praanggapan, dan pangkal pendirian ilmu, berikut landasan-landasan dasar empiris, rasional, atau pragmatis yang menjadi tempat tumpuannya. Segi ini dalam banyak hal berkaitan dengan metafisika, karena mencakup telaah terhadap berbagai keyakinan mengenai dunia kenyataan, keseberagaman alam, dan rasionalitas dari proses ilmiyah.
· Aneka telaah mengenai saling kait di antara berbagai ilmu dan implikasinya bagi suatu teori alam semesta, seperti misalnya idealisme, materialisme, monisme, dan pluralisme
- Arthur Danto
Filsuf ini menyatakan ‘lingkupan filsafat ilmu cukup luas mencakup pada kutub yang satu, yaitu persoalan-persoalan konsep yang sedemikian erat bertalian dengan ilmu itu sendiri, sehingga pemecahannya dapat seketika dipandang sebagai suatu sumbangan kepada ilmu daripada kepada filsafat, dan pada kutub yang lain persoalan-persoalan begitu umum dengan suatu pertalian filsafat sehingga pemecahannya akan banyak menyumbang kepada metafisika atau epistemology seperti kepada filsafat ilmu yang sesungguhnya. Begitu pula, rentangan masalah-masalah yang diselidiki oleh filsuf-filsuf ilmu dapat demikian sempit sehingga menyangkut keterangan tentang sesuatu konsep tunggal yang dianggap penting dalam suatu cabang ilmu tunggal, dan begitu umum sehingga bersangkutan dengan ciri-ciri structural yang tetap bagi semua cabang ilmu yang diperlakukan sebagai suatu himpunan.
- Edward Madden
Filsuf ini berpendapat bahwa apapun lingkup filsafat umum, tiga bidang tentu merupakan bahan perbincangannya, yaitu:
· Probabilitas
· Induksi
· Hipotesis
- Ernest Nagel
Dari hasil penyelidikannya filsuf ini menyimpulkan bahwa filsafat ilmu mencakup tiga bidang luas:
· Pola logis yang ditunjukkan oleh penjelasan dalam ilmu
· Pembentukan konsep ilmiyah
· Pembuktian keabsahan kesimpulan ilmiyah
- P. H. Nidditch
Menurut filsuf ini lingkupan filsafat ilmu luas dan beraneka ragam. Isinya dapat digambarkan dengan mendaftar serangkaian pembagian dwi bidang yang saling melengkapi:
· Logika ilmu yang berlawanan dengan epistemology ilmu
· Filsafat ilmu-ilmu kealaman yang berlawanan dengan filsafat ilmu-ilmu kemanusiaan
· Filsafat ilmu yang berlawanan dengan telaah masalah-masalah filsafat dari suatu ilmu khusus
· Filsafat ilmu yang berlawanan dengan sejarah ilmu. Selain itu, telaah mengenai hubungan ilmu dengan agama juga termasuk filsafat ilmu
- Israel Scheffler
Filsuf ini berpendapat bahwa filsafat ilmu mencari pengetahuan umum tentang ilmu atau tentang dunia sebagaimana ditunjukkan oleh ilmu. Lingkupannya mencakup tiga bidang ini:
· Bidang ini menalaah hubungan–hubungan antara factor-faktor kemasyarakatan dan ide-ide ilmiyah
· Bidang ini berusaha melukiskan asal mula dan struktur alam semesta menurut teori-teori yang terbaik dan penemuan-penemuan dalam kosmologi
· Bidang ini menyelidiki metode umum, bentuk logis, cara penyimpulan, dan konsep dasar dari ilmu-ilmu
- J. J. C. Smart
Filsuf ini menganggap filsafat ilmu memiliki dua komponen utama:
· Bahan analitis dan metodologis tentang ilmu
· Penggunaan ilmu untuk membantu pemecahan problem-problem filsafat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar