Senin, 25 April 2011

Bidang Telaah Filsafat Ilmu

Bab I
Pendahuluan Filsafat Ilmu
  1. Bidang Telaah Filsafat Ilmu
Pada awalnya filsafat ilmu tidak membahas tentang persoalan-persoalan keilmuan. Filsafat ilmu pada tahap pertamanya membahas tentang terbuat dari apakah alam ini? Yang kemudian dilanjutkan dengan pembahasan siapakah manusia itu? Hal ini sama dengan pembahasan di dalam keilmuan filsafat secara umum, yang mempertanyakan tentang manusia sebagai bagian dari alam yang bercorak biologis maupun yang bercorak hewani. Lalu pada tahap kedua barulah muncul pertanyaan tentang “ada” atau tentang hidup dan eksistensi manusia di dalam kehidupannya. Ini merupakan persoalan utama di dalam filsafat, yang kemudian berlanjut pada telaah filsafat ilmu yang membahas tentang keilmuan yang dimiliki oleh manusia.
  1. Cabang-Cabang Filsafat Ilmu
Pokok persoalan yang menjadi pembahasan dalam filsafat mencakup tiga segi, yaitu:
·  Logika; apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah
·  Etika; mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk
·  Estetika; apa yang termasuk jelek dan apa yang termasuk indah
Ketiga cabang ini akhirnya bertambah lagi menjadi:
·  Metafisika; teori tentang ada (tentang hakikat keberadaan zat, tentang hakikat serta pikiran dan kaitan antara zat dan pikiran)
·  Politik; kajian mengenai organisasi sosial/pemerintahan yang ideal
      Lalu berkembang lagi menjadi banyak cabang keilmuan yang meliputi:
·  Epistemologi (filsafat pengetahuan)
·  Etika (filsafat moral)
·  Estetika (filsafat seni)
·  Metafisika
·  Politik (filsafat pemerintahan)
·  Filsafat agama
·  Filsafat ilmu
·  Filsafat pendidikan
·  Filsafat hukum
·  Filsafat sejarah
·  Filsafat matematika
C.     Filsafat Ilmu
      Filsafat Ilmu merupakan bagian dari epistemology (filsafat pengetahuan) atau bahkan filsafat pendidikan yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu atau pengetahuan ilmiyah. Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang memiliki ciri-ciri tertentu. Meskipun secara metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, namun karena berbagai persoalan terutama mengenai masalah teknis yang bersifat khas, maka filsafat ilmu seringkali membaginya menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu sosial. Pembagian ini lebih merupakan pembatasan bidang-bidang yang ditelaah dari setiap cabang ilmu-ilmu tersebut – ilmu alam dan ilmu sosial – dengan tidak mencirikan cabang filsafat yang bersifat otonom. Ilmu memang berbeda dari pengetahuan-pengetahuan secara filsafat, namun tidak terdapat perbedaan yang principle antara ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial, di mana keduanya memiliki ciri-ciri keilmuan yang sama.
      Filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu, seperti;
·        Objek apa yang ditelaah ilmu? (Ontologis)
·        Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan berupa ilmu? (Epistemologi)
·        Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu digunakan? (Aksiologi)










Bab II
Dasar-Dasar Pengetahuan
A.     Penalaran
1.      Definisi
      Kemampuan menalar menyebabkan manusia mampu untuk mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia dari kekuasaan-kekuasaannya. Secara simbolik manusia memakan (memaknai) sebuah nama (buah) pengetahuan dari Adam dan Hawa, dan setelah itu manusia harus hidup dengan berbekal pengetahuannya tersebut. Dia mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang indah dan mana yang jelek. Secara terus menerus dia selalu hidup dengan berbagai pilihannya.
      Manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang mengembangkan pengetahuannya secara sungguh-sungguh. Binatang pun memiliki pengetahuan, namun pengetahuannya sangat terbatas dalam menghadapi kelangsungan hidupnya. Manusia mengembangkan pengetahuannya untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhan kelangsungan hidupnya. Hal inilah yang kemudian melahirkan, pemikiran hal-hal baru, menjelajahi ufuk baru, karena dia harus hidup bukan hanya untuk sekedar kelangsungan hidupnya, namun labih daripada itu. Manusia mengembangkan kebudayaan, memberi makna bagi kehidupan, manusia “memanusiakan” diri dalam hidupnya. Intinya adalah manusia di dalam hidupnya memiliki tujuan tertentu yang lebih tinggi dari sekedar kelangsungan hidupnya. Hal inilah yang menjadikan manusia untuk mengembangkan pengetahuannya yang kemudian pengetahuan tersebut akan mendorong manusia untuk menjadi makhluk hidup yang memiliki sifat khas.
      Pengetahuan ini dapat dikembangkan oleh manusia dikarenakan oleh dua hal utama:
a.       Bahasa; manusia memiliki bahasa yang dapat dikomunikasikan berbagai informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut
b.      Kemampuan berfikir menurut suatu alur kerangka berfikir tertentu. Secara garis besar cara berfikir seperti inilah yang disebut penalaran.
      Dua kelebihan inilah yang memungkinkan manusia untuk mengembangkan pengetahuannya yakni melalui bahasa yang bersifat komunikatif dan fikiran yang dapat bernalar.
2.      Hakikat Penalaran
      Penalaran merupakan suatu proses berfikir dalam menarik sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan. Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang berfikir, merasa, bersikap, dan bertindak. Sikap dan tindakan yang bersumber pada pengetahuan yang didapatkannya lewat berbagai kegiatan merasa atau berfikir. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan merasa atau berfikir. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berfikir dan bukan dengan perasaan.Berfikir merupakan suatu kegiatan yang diperuntukkan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut benar bagi tiap individu (orang) adalah tidak sama, oleh karenanya kegiatan proses berfikir untuk menghasilkan pengetahuan yang benar itupun berbeda-beda, atau hal ini dapat dikatakan bahwa tiap jalan fikiran memiliki apa yang disebut sebagai kriteria kebenaran, dan kriteria kebenaran tersebut merupakan landasan bagi proses kebenarannya. Penalaran merupakan suatu proses penemuan kebenaran di mana setiap jenis penalaran memiliki kriteria kebenarannya masing-masing.
      Sebagai suatu kegiatan proses berfikir maka penalaran memiliki ciri-ciri tertentu, yakni:
·        Suatu pola berfikir yang secara luas dapat disebut logika, dan tiap penalaran memiliki logika tersendiri atau dapat disimpulkan bahwa kegiatan penalaran merupakan suatu kegiatan berfikir logis, di mana berfikir logis di sini harus diartikan sebagai kegiatan berfikir menurut suatu pola tertentu atau logika tertentu.
·        Sifat analitik dari proses berfikirnya. Penalaran merupakan suatu kegiatan berfikir yang menyandarkan diri kepada suatu analisis dan kerangka berfikir, yang dipakai untuk analisis tersebut adalah logika penalaran yang terkait. Artinya penalaran ilmiyah merupakan suatu kegiatan analisis yang mempergunakan logika ilmiyah, dan demikian juga penalaran lainnya yang mempergunakan logikanya tersendiri. Sifat analitik ini merupakan konsekuensi dari suatu pola berfikir tertentu.


3.      Logika
      Penalaran merupakan suatu proses berfikir yang menghasilkan pengetahuan. Agar supaya pengetahuan yang dihasilkannya memiliki dasar kebenaran maka proses berfikir itu harus dilakukan dengan cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru akan dianggap valid (shahih) kalau proses penarikan kesimpulannya dilakukan menurut cara. Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, di mana logika secara luas dapat didefinisikan sebagai “pengkajian untuk berfikir secara shahih.[1] Terdapat bermacam-macam cara penarikan kesimpulan, namun untuk sesuai dengan tujuan studi yang memusatkan diri kepada penalaran maka hanya difokuskan kepada dua jenis penarikan kesimpulan, yakni logika induktif dan logika deduktif. Logika induktif erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata (premis minor) menjadi kesimpulan bersifat umum (premis mayor). Sedangkan logika deduktif menarik kesimpulan dari hal yang bersifat umum (premis mayor) menjadi kasus yang bersifat individual atau khusus (premis minor).
a.      Induksi
      Induksi merupakan cara berfikir di mana ditarik dari suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individu atau khusus. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang bersifat khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. Kesimpulan yang bersifat umum ini penting artinya karena memiliki dua keuntungan:
1.      Bersifat ekonomis
2.      Dimungkinkannya proses penalaran selanjutnya.
b.      Deduksi
      Penalaran deduktif adalah kegiatan berfikir yang sebaliknya dari penalaran induktif. Deduksi adalah cara berfikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditari kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya menggunakan pola berfikir yang dinamakan silogisme. Silogisme disusun dari dua buah pernyataan dan satu kesimpulan. Pernyataan yang mendukung silogisme ini disebut primes yang kemudian dapat dibedakan sebagai premis mayor dan premis minor. Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut.
      Jadi ketepatan penarikan kesimpulan tergantung pada tiga hal yakni kebenaran premis mayor, kebenaran premis minos, dan keabsahan penarikan kesimpulan. Sekiranya salah satu dari ketiga unsure tersebut persyaratannya tidak terpenuhi maka kesimpulan yang akan ditariknya akan salah. Matematika adalah pengetahuan yang disusun secara deduktif.
4.      Sumber Pengetahuan   
      Kebenaran adalah pernyataan tanpa ragu! Baik logika deduktif maupun logika induktif, dalam proses penalarannya, mempergunakan premis-premis yang berupa pengetahuan yang dianggapnya benar. Kenyataan ini membawa kita kepada pertanyaan: Bagaimana kita mendapatkan pengetahuan yang benar itu? Pada dasarnya terdapat dua cara pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama, adalah mendasarkan diri kepada rasionalitas dan yang kedua bersandarkan diri kepada pengalaman. Kaum rasionalis mendasarkan diri kepada rasio dan kaum empirisme mendasarkan diri kepada pengalaman.
      Kaum rasionalis menggunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penalarannya didapatkan dari ide yang dianggapnya jelas dan dapat diterima. Ide ini menurut mereka bukanlah ciptaan pikiran manusia. Prinsip itu sendiri sudah ada jauh sebelum manusia memilikirkannya. Paham ini dikenal dengan nama Idealisme. Fungsi fikiran manusia hanyalah mengenali prinsip tersebut yang lalu menjadi pengetahuannya. Prinsip itu sendiri sudah ada dan bersifat apriori dan dapat diketahui manusia lewat kemampuan berfikir rasionalnya. Pengalaman tidaklah membuahkan prinsip justru sebaliknya, hanya dengan mengetahui prinsip yang didapat lewat penalaran rasional itulah maka kita dapat mengerti kejadian-kejadian yang berlaku dalam alam sekitar kita. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ide bagi kaum rasionalis adalah bersifat apriori dan pengalaman yang didapatkan manusia lewat penalaran rasional. Berlainan dengan kaum rasionalis maka kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu bukan didapatkan lewat penalaran yang abstrak namun lewat penalaran yang konkret dan dapat dinyatakan lewat tangkapan panca indera.     
      Di samping rasionalisme dan empirisisme masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lain, di antaranya adalah saintik dan intuitif. Yang penting untuk kita ketahui adalah intuisi atau wahyu. Sampai sejauh ini, pengetahuan yang didapatkan secara rasional dan empiris atau bahkan saintik, ketiga-tiganya merupakan induk produk dari sebuah rangkaian penalaran. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba mendapatkan jawaban atas permasalahan tersebut. Tanpa melalui proses berliku-liku dia sudah mendapatkan jawabannya. Intuisi juga bisa bekerja dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar, artinya jawaban atas suatu permasalahan ditemukan jawabannya tidak pada saat seseorang itu secara sadar sedang menggelutinya. Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur maka intuisi ini tidak dapat diandalkan. Pengetahuan intuitif dapat dipergunakan sebagai hipotesa bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar atau tidaknya suatu penalaran.
      Sedangkan wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia. Pengetahuan ini disalurkan lewat Nabi-Nabi yang diutusNya sepanjang zaman. Agama merupakan pengetahuan bukan saja mengenai kehidupan sekarang yang terjangkau pengalaman, namun juga mencakup masalah yang bersifat transcendental kepercayaan kepada Tuhan yang merupakan sumber pengetahuan, kepercayaan kepada Nabi sebagai suatu pengantara dan kepercayaan terhadap suatu wahyu sebagai cara penyampaian merupakan titik dasar dari penyusunan pengetahuan ini. Kepercayaan merupakan titik tolak agama. Suatu pernyataan harus dipercaya dulu baru bias diterima. Dan pernyataan ini bisa saja dikaji lewat metode lain. Secara rasional bisa dikaji umpamanya apakah pernyataan-pernyataan yang terkandung di dalamnya konsisten atau tidak, di pihak lain secara empiris bisa dikumpulkan fakta-fakta yang mendukung pernyataan tersebut.
5.      Kriteria Kebenaran    
      Tidak semua manusia memiliki persyaratan yang sama terhadap apa yang dianggapnya benar. Oleh sebab itu ada beberapa teori yang dicetuskan dalam melihat criteria kebanaran. Yang pertama adalah teori koherensi. Teori ini menyatakan bahwa pernyataan dan kesimpulan yang ditarik harus konsisten dengan pernyataan dan kesimpulan terdahulu yang dianggap benar. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori koherensi suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan tersebut bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Matematika adalah bentuk pengetahuan yang penyusunannya dilakukan pembuktian berdasarkan teori koheren.
      Paham lain adalah kebenaran yang didasarkan pada teori korespondensi. Bagi penganut teori korespondensi, suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Maksudnya jika seseorang menyatakan bahwa “ibukota republic Indonesia adalah Jakarta” maka pernyataan itu adalah benar sebab pernyataan itu dengan objek yang bersifat factual yakni Jakarta memang ibukota republic Indonesia.
      Teori pragmatis dicetuskan oleh Charles S Pierce (1839-1924) dalam sebuah makalah yang terbit tahun 1878 yang berjudul “How to Make Our Ideas Clear”. Teori ini kemudian dikembangkan oleh para filsuf Amerika. Bagi seorang pragmatis, kebenaran suatu pernyataan diukur dengan criteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Artinya, suatu pernyataan adalah benar, jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan umat manusia. Kaum pragmatis berpaling kepada metode ilmiyah sebagai metode untuk mencari pengetahuan tentang alam ini yang dianggapnya fungsional dan berguna dalam menafsirkan gejala-gejala ilmiyah. Criteria pragmatisme ini juga dipergunakan oleh ilmuwan dalam menentukan kebenaran dilihat dari perspektif waktu.










Bab III
Sejarah Dan Sumber Filsafat Ilmu
      Filsafat dan Ilmu yang dikenal di dunia Barat dewasa ini berasal dari zaman Yunani kuno. Pada zaman itu filsafat dan ilmu jalin menjalin menjadi satu dan orang tidak memisahkannya sebagai dua hal yang berlainan. Keduanya termasuk ke dalam pengertian episteme. Kata philosophia merupakan suatu padanan kata dari episteme.
      Menurut konsepsi filsuf besar Yunani kuno Aristoteles, episteme adalah “suatu kumpulan yang teratur dari pengetahuan rasional dengan objeknya sendiri yang tepat”. Jadi, filsafat dan ilmu tergolong sebagai pengetahuan yang rasional, yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran atau rasionalitas manusia.
      Dalam pemikiran Aristoteles selanjutnya, episteme atau pengetahuan rasional itu dapat dibagi menjadi tiga bagian yang disebutnya:
1.      Praktike (pengetahuan praktis)
2.      Poietike (pengetahuan produktif)
3.      Theoreitike (pengetahuan teoritis)
      Theoreitike atau pengetahuan teoritis oleh Aristoteles dibedakan pula menjadi tiga kelompok dengan sebutan:
a.       Mathematike (pengetahuan matematika)
b.      Physike (pengetahuan fisika)
c.       Prote Philosophia (filsafat pertama)
Filsafat pertama adalah pengetahuan yang menelaah peradaban yang abadi, tidak berubah, dan terpisah dari materi. Aristoteles mendefinisikannya sebagai ilmu tentang asas-asas pertama atau yang dikenal sebagai metafisika. Matematika, fisika, dan metafisika telah cukup berkembang pada masa hidup Aristoteles. Sekitar dua ratus tahun sebelumnya telah lahir pemikir yang mempelajari bidang-bidang tersebut. Seorang pemikir pertama yang dikenal sebagai Bapak Filsafat adalah Thales. Sebagian sarjana kemudian mengakuinya pula sebagai ilmuwan pertama di dunia. Bangsa Yunani menyebutnya bahwa ia adalah salah satu dari tujuh orang arif Yunani.
Thales memperkembangkan filsafat alam kosmologi yang mempertanyakan asal mula, sifat dasar, dan struktur komposisi dari alam semesta. Menurutnya semua berasal dari air sebagai dasar materi kosmis. Sebagai ilmuwan ia mempelajari magnetisme dan listrik yang merupakan pokok soal dari ilmu fisika. Ia juga berusaha mengembangkan astronomi dan matematika dengan antara lain mengemukakan pendapat bahwa bulan bersinar karena memantulkan cahaya matahari, menghitung terjadinya gerhana matahari, dan membuktikan dalil-dalil geometri. Salah satu yang dibuktikannya ialah dalil bahwa kedua sudut alas dari suatu segitiga sama kaki adalah sama besarnya. Dengan demikian, ia merupakan ahli matematika Yunani yang pertama dan oleh penulis yang sekarang dinyatakan sebagai bapak dari penalaran deduktif.
Selanjutnya muncullah Phytagoras. Pemikir dan tokoh matematika ini mengemukakan sebuah ajaran metafisika bahwa bilangan-bilangan merupakan intisari semua benda serta dasar pokok dari sifat-sifat benda. Dalilnya berbunyi “bilangan memerintah jagad raya ini”. Menurutnya, kearifan yang sesungguhnya itu hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan. Oleh karena itu, ia tidak mahu disebut sebagai orang arif sebagaimana halnya Thales, melainkan menganggap dirinya hanya seorang filosof (philosophia) atau secara harfiyah adalah cinta kearifan. Dengan demikian sampai sekarang secara etimologis dan singkat sederhana filsafat masih diartikan cinta kearifan.
Phytagoras berpendapat bahwa matematika merupakan suatu sarana atau alat bagi pengetahuan filsafati. Pendapat ini kemudian memperoleh pengukuhan dari Plato. Ia menegaskan bahwa seorang filsuf adalah pencinta pandangan tentang kebenaran, sedang filsafat merupakan pencarian yang bersifat perekaan terhadap pandangan seluruh kebenaran. Filsafat Plato disebut sebagai filsafat spekulatif. Menurut pendapat Plato, geometri sebagai pengetahuan rasional berdasarkan akal murni menjadi kunci ke arah pengetahuan dan kebenaran filsafati serta bagi pemahaman mengenai sifat dasar dari kenyataan terakhir. Geometri merupakan suatu ilmu dengan akal murni membuktikan posisi-posisi abstrak mengenai hal-hal yang abstrak seperti garis lurus sempurna, lingkaran sempurna atau segitiga sempurna.
Salah satu murid Plato yang paling cemerlang yang belajar di akademinya adalah Aristoteles. Tokoh pemikir ini menyusun konsepsinya tentang pembagian pengetahuan rasional seperti yang telah diuraikan di atas. Mengenai peranannya dalam filsafat yang berkaitan dengan ilmu, Aristoteles merupakan seorang filsuf ilmu yang pertama. Ia menciptakan cabang pengetahuan itu dengan menganalisis problem-problem tertentu yang timbul dalam hubungannya dengan penjelasan ilmiyah.
Dari selintas perkembangan filsafat dan ilmu yang telah diuraikan ternyata sejak zaman Yunani kuno sesungguhnya berkembang tidak hanya dua melainkan empat bidang pengetahuan, yaitu filsafat, ilmu, matematika, dan logika. Masing-masing kemudian mengalami perkembangan ke arah yang lebih luas.
1.      Filsafat
Filsafat dimulai oleh Thales sebagai filsafat jagad raya yang selanjutnya berkembang ke arah kosmologi. Filsafat ini kemudian menjurus pada filsafat spekulatif pada Plato dan metafisika pada Aristoteles. Setelah mulai beralih memasuki Romawi kuno, para pemikir mencari keselarasan antara manusia dan alam semesta. Keselarasan itu dapat tercapai bilamana manusia hidup sesuai dengan alam dalam artian mengikuti petunjuk akal (sebagai asas tertinggi sifat manusiawi) dan mengikuti hukum alam dari Logos (sebagai akal alam semesta).
Dalam abad pertengahan, filsafat dianggap sebagai pengetahuan yang tertinggi. Namun kedudukan dan peranannya adalah sebagai pelayan teologi. Kebenaran yang diterima oleh kepercayaan-kepercayaan melalui wahyu tidak dapat ditentang oleh kebenaran filsafat yang diperoleh dari akal manusia. Filsafat merupakan sarana untuk menetapkan kebenaran-kebenaran tentang Tuhan yang dapat dicapai oleh akal manusia. Dalam perkembangan abad-abad selanjutnya filsafat berkembang menjadi dua jalur, yaitu filsafat alam dan filsafat moral.
Perkembangan filsafat berjalan terus seiring dengan perkembangan berbagai ilmu baru. Sesudah memasuki abad XX filsafat dalam garis besarnya dibedakan menjadi dua ragam, yakni filsafat kritis dan filsafat spekulatif. Filsafat kritis tersebut kemudian oleh sebagian filsuf disebut filsafat analitik. Ragam filsafat analitik membahas pertanyaan-pertanyaan tentang arti (meaning) dari pengertian-pengertian yang digunakan dalam filsafat. Dengan perkataan lain, filsafat analitik terutama memusatkan perhatian pada analisis secara cermat terhadap makna pengertian yang diperbincangkan dalam filsafat, seperti misalnya substansi, eksistensi, moral, realitas, dan lain sebagainya. Sedangkan filsafat spekulatif sesungguhnya merupakan sebutan lain dari metafisika.
2.      Ilmu
Pada zaman Yunani kuno episteme atau pengetahuan rasional mencakup filsafat maupun ilmu. Tidak terdapat masalah besar atau kebutuhan penting untuk membedakan kedua jenis pengetahuan itu. Thales sebagai seorang filsuf juga mempelajari astronomi, dan topic-topik pengetahuan yang termasuk fisika. Fisika adalah pengetahuan teoritis yang mempelajari alam. Pengetahuan ini kemudian lebih banyak disebut filsafat alam.
Tetapi, pada zaman Renaissance sejak abad XIV sampai abad XVI terjadi perkembangan baru. Tokoh-tokoh pembaharu dan pemikir, seperti Galileo Galilei, Francis Bacon, dan pada abad berikutnya Rene Descartes, dan Isaac Newton memperkenalkan metode matematika dan metode eksprimental untuk mempelajari alam. Dengan demikian, pengertian filsafat alam memperoleh arti khusus sebagai “penelaahan sistematis terhadap alam melalui pemakaian metode-metode yang diperkenalkan oleh para pembaharu dari zaman Renaissance dan awal abad XVII.
Jadi, sejak abad XVII filsafat alam sesungguhnya bukanlah pengetahuan filsafat, melainkan pengetahuan yang kini dikenal sebagai ilmu alam. Perkembangan ilmu itu mencapai puncak kejayaan di tangan Newton. Ilmuwan Inggris ini antara lain merumuskan teori gaya berat dan kaidah-kaidah mekanika dalam karya tulis yang diberi judul “philosophiae naturalis principa” (azaz mekanik dari filsafat alam), terbit tahun 1687. Dalam perkembangan selanjutnya pada abad XVIII, philosophia naturalis memisahkan diri dari filsafat dan para ahli menyebutnya kembali dengan nama fisika.
Cabang-cabang lainnya yang tercakup dalam pengertian ilmu modern juga berkembang pesat berkat penerapan metode empiris yang makin cermat, pemakaian alat keilmuan yang lebih lengkap, dan komunikasi antar ilmuwan yang senantiasa meningkat. James Conat menyatakan bahwa ilmu modern mencapai tahap berjalan dan berbicara pada tahun 1700 dan mulai memasuki taraf kedewasaan pada sekitar tahun 1780. Setelah dewasa masing-masing ilmu lalu memisahkan diri dari filsafat seperti halnya fisika. Pemisahan diri dilakukan oleh biologi pada awal abad XIX dan oleh psikologi pada sekitar pertengahan abad XIX. Cabang-cabang ilmu lainnya, seperti sosiologi, antropologi, ilmu ekonomi, dan ilmu politik kemudian juga dengan tegas terpisah dengan filsafat.
Seterusnya menurut pengamatan Henry Aiken, dalam abad XX filsafat memberikan kelahiran pada ilmu-ilmu yang tampaknya juga bebas berupa, logika formal, linguistic, dan teori tanda. Dalam pertengahan abad ini dapat pula disaksikan lahirnya serangkaian ilmu antardisiplin, seperti misalnya ilmu prilaku yang menggabungkan psikologi dengan berbagai cabang ilmu social seperti sosiologi dan antropologi untuk menelaah tingkah laku manusia. Jadi dalam zaman modern timbul kebutuhan untuk memisahkan secara nyata kelompok ilmu-ilmu modern dari filsafat karena perbedaan cirri-cirinya yang sangat mencolok. Filsafat kebanyakan masih bercorak spekulatif, sedangkan ilmu-ilmu modern telah menetapkan metode-metode empiris, eksprimental, dan induktif. Kini secara pasti semua cabang ilmu dinyatakan sebagai ilmu-ilmu empiris. Sifat empiris inilah yang membentuk ciri umum dari kelompok ilmu modern dan yang membedakannya dari filsafat.
3.      Matematika
Bidang pengetahuan yang ketiga setelah filsafat dan ilmu yang berkembang sejak zaman Yunani kuno ialah matematika. Oleh karena tergolong rumpun pengetahuan teoritis yang sama, sudah barang tentu matematika mempunyai hubungan yang cukup erat dengan kedua bidang pengetahuan yang terdahulu itu.
Matematika sejak dahulu menjadi pendorong bagi perkembangan filsafat. J. B. Burnet misalnya menyatakan bahwa perkembangan filsafat Yunani bergantung pada kemajuan penemuan ilmiyah khususnya matematika lebih daripada sesuatu hal lainnya. Seorang ilmuwan astronomi terkenal yang berbicara tentang kaitan matematika dengan filsafat ialah Galileo. Ucapannya yang terkenal itu berbunyi, “filsafat ditulis dalam buku besar ini, jagad raya yang terus menerus terbentang terbuka bagi pengamatan kita. Tetapi buku itu tidak dapat dimengerti jika seseorang tidak terlebih dahulu belajar memahami bahasa dan membaca huruf-huruf yang dipakai untuk menyusunnya. Buku itu ditulis dalam bahasa matematika…..”.
Sejak permulaan hingga dewasa ini filsafat dan matematika terus menerus saling mempengaruhi. Filsafat mendorong perkembangan matematika dan sebaliknya matematika juga memacu pertumbuhan filsafat. Perbincangan-perbincangan paradoks yang dikemukakan oleh filsuf Zeno misalnya telah mendorong lahirnya konsep-konsep matematika. Sejak zaman Yunani kuno hingga abad XX ini, filsafat dan matematika berkembang terus menerus melalui pemikiran tokoh-tokoh yang sekaligus merupakan seorang filsuf juga ahli matematika seperti misalnya, Descartes, Gottfried Wilhelm von Leibinz, Auguste Comte, Whitehead, dan Bertrand Russell. Kaitan antara matematika dengan ilmu-ilmu modern kiranya tidak perlu dipersoalkan lag. Pada abad XVII matematika menjadi perintis dari bagian yang terpenting dari ilmu alam. Newton membongkar rahasia alam dengan mempergunakan matematika. Pada dewasa ini banyak ahli matematika dan ilmuwan alam yang menyatakan bahwa matematika adalah bahasa ilmu.
4.      Logika
Logika adalah bidang pengetahuan yang mempelajari segenap asas, aturan, dan cara penalaran yang benar. Penalaran adalah proses pemikiran manusia yang berusaha tiba pada pernyataan baru yang merupakan kelanjutan runtut dari pernyataan lain yang diketahui. Pernyataan lain yang telah diketahui itu disebut pangkal fikir (premis), sedangkan pernyataan baru yang diturunkan dinamakan kesimpulan.
Walaupun tidak disebutkan sebagai pengetahuan rasional yang termasuk dalam episteme, logika adalah sepenuhnya suatu jenis pengetahuan yang rasional. Menurut yang Aristoteles mempelopori pengetahuan jenis keempat ini, logika (waktu itu masih disebutnya sebagai analytika) merupakan suatu alat ilmu (instrument of scince) di luar episteme yang justru diperlukan untuk mempelajari kumpulan pengetahuan yang rasional tersebut.
Dalam abad Pertengahan, wibawa Aristoteles diakui sedemikian tinggi sehingga pengetahuan logikanya dijadikan mata pelajaran wajib dalam pendidikan untuk warga bebas. Para pendeta dan guru mengajarkan filsafat sebagai pengetahuan tertinggi bersama-sama dengan logika Aristoteles. Logika yang dikembangkan oleh Aristoteles dan selanjutnya diperlengkapi oleh ahli-ahli logika abad Pertengahan dan masa berikutnya kemudian terkenal dengan sebutan logika tradisional. Sampai dengan abad XIX logika tradisional merupakan satu-satunya pengetahuan tentang penalaran yang betul untuk studi dan pendidikan.
Tetapi, mulai pertengahan kedua abad XIX dikembangkan logika yang kemudian tergolong sebagai logika modern oleh ahli-ahli matematika, seperti George Boole, Auguste de Morgan, dan Goottlob Frege. Pada dewasa ini logika telah menjadi bidang pengetahuan yang amat luas dan tidak lagi semata-mata bersifat filsafat, melainkan juga bercorak sangat tekni dan ilmiyah. Lebih-lebih logika modern telah tumbuh begitu pesat dan demikian beragam sehingga mendesak logika tradisional ke samping dan menjadi bagian kecil yang kurang berarti. Logika modern yang semula hanya mencakup logika perlambang kini meliputi antara lain, logika kewajiban, logika ganda-nilai, logika intusionistik, dan berbagai logika tata baku.
Selain hubungannya yang erat dengan filsafat dan matematika, logika dewasa ini juga telah mengembangkan berbagai metode logis yang banyak sekali pemakaiannya dalam ilmu-ilmu. Kini selain deduksi dan induksi yang merupakan metode-metode pokok, juga dikenal berbagai metode lainnya seperti, analisis logika, abstraksi, analogi, serta pembagian dan penggolongan logis. Sebagai misal, metode yang umumnya pertama dipakai oleh sesuatu ilmu ialah penggolongan logis. Ilmu-ilmu yang banyak memakai grafik dalam penjelasannya pada dasarnya menetapkan metode analogi.
Selain itu, logika modern (terutama logika perlambang) dengan berbagai pengertian cermat, lambing yang abstrak, dan aturan yang diformalkan untuk keperluan penalaran yang betul tidak saja dapat menangani perbincangan-perbincangan yang rumit dalam suatu bidang ilmu, melainkan ternyata memiliki pula penerapan misalnya, dalam penyusunan program computer dan pengaturan arus listrik yang tidak memiliki kaitan dengan argument. Demikianlah pertumbuhan empat jenis pengetahuan rasional yang telah dipaparkan secara singkat di atas yang pada akhirnya dalam dewasa ini bermuara pada suatu bidang pengetahuan rumit yang dinamakan filsafat ilmu (lihat gambar 1).














Gambar 1
Sejak Zaman Yunani Kuno
Filsafat                         Ilmu                        Matematika                         Logika
                                                           
      Thales                          Thales                         Thales                       Aristoteles
      Kosmologi                   Astronomi, Fisika       Geometri               Analytika, Dialektika















 

      Plato                                                                                                       Organon
      Filsafat Spekulatif                                               Pytaghoras               


 


                                                                                                          Zaman Romawi kuno
                                       Zaman Renaissance                                                 Logika
      Aristoteles                Galileo, Bacon
      Metafisika               Metode Eksprimental                                          
                                                                                                                  Abad Pertengahan
Zaman Romawi kuno    Zaman Modern                                                  Logika Tradisional
Cicero                             Abad XVII           Zaman Modern
Pengetahuan ttg hidup   Descartes,             Abad XVII
                                       Newton                 Descartes, Newton,                 Zaman Modern
Abad Pertengahan                                       Leibniz
Pengetahuan yang tertinggi  Filsafat Alam          
Pelayanan Teologi
                                                                                                Abad XIX Boole, De Morgan
Zaman Modern                     Abad XVIII Fisika
Abad XVII

Abad XVIII                        Abad XX                  Abad XX
Filsafat mental & moral    Berbagai ilmu baru  Berbagai Cab. Matematika  Abad XX
                                                                                                                   Logika Modern
Abad XX
Filsafat Analitik

                                                              Filsafat Ilmu





[1] William S. Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian, Realism of Philosophy, Cambridge: Mass. Schhenkman, 1965, hlm. 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar