Minggu, 08 Januari 2012

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi tuhan yang telah menolong hamabanya menyelesaikan akalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia munkin penyusun tidak akan sanggup meyelesaikan dengan baik.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui seberapa besar pandangan Al-quran terhadap ilmu yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini disusun oleh penyusun dengan berbagai rintangan, baik itu yang datang dari penyusun maupun dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari tuhan akhirnya makalah ini dapat diselesaikan.
Makalah ini bejudul “KEMULYAAN TUHAN BAGI UMMAT YANG SHOLEH” dan sengaja dipilih kerena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap dunia pendidikan.
Penyusun juga mengucapkan banyak terimakasih kepada dosen pembimbing yang telah banyak membantu penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki banyak kekurangan. Penyusun mohon untuk memberikan saran dan kritikannya. Terimakasih






















                                                                                                                .  Penulis




                                                                                                                                                  (……………..)



PEMBAHASAN

1.Surah Al Kahfi ayat 18
Setelah mereka mendapat tempat yang aman dalam gua itu, tekunlah mereka beribadah di dalamnya sampai Tuhan menutup pendengaran mereka dan tertidurlah mereka. Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan keadaan mereka sewaktu tidur. Mereka tampaknya bangun tetapi sebenarnya mereka tidur. Berkata Ibnu Kasir: "Sebagian ahli ilmu menerangkan bahwa tatkala Tuhan menutup pendengaran mereka dengan jalan menidurkan mereka, maka mata mereka tidak tertutup rapat agar jangan cepat rusak. Bila itu tetap terbuka untuk udara, maka itu lebih tahan lama. Karena mata mereka terbuka, mereka disangka jaga; seolah-olah mereka melihat siapa yang berdiri di hadapan mereka. Padahal mereka itu benar-benar tidur. Tapi tidur mereka berlainan dengan tidur manusia biasa. Pada tidur biasa umumnya terdapat tanda-tanda istirahat dan organ-organ tubuh terutama mata dan muka. Tidur para penghuni gua itu, menyimpang dari sunah alam yang berlaku, karena Pencipta Alam berkehendak untuk memperlihatkan kepada manusia yang ingkar pada kekuasaan dan kedaulatan Nya atas alam semesta ini.
Meskipun mereka dalam tidur mereka digerakkan Tuhan dengan membalikkan mereka ke kiri dan ke kanan sebagaimana lazimnya orang hidup yang sedang tidur, namun hal demikian tidaklah mengurangi keluar biasaan peristiwa tidur itu sendiri. Tidaklah dapat disamakan dengan berbaliknya seseorang yang tidur biasa agar supaya badan terpelihara. Tuhan Maha Kuasa memelihara badan mereka, walaupun mereka tidak membalik ke kiri dan ke kanan. Tuhan menggerakkan mereka pada waktu tertentu, untuk menunjukkan adanya kehidupan pada mereka dan membedakan mereka dengan patung-patung atau mumi yang merupakan benda-benda mati. Walaupun misalnya mereka berbalik ke kiri dan ke kanan sekali dalam setahun, sudah cukup menunjukkan pula keajaiban yang luar biasa bagi orang-orang yang menyaksikan sebab mereka tidur lebih tiga ratus tahun lamanya.
Ahli tafsir bermacam-macam pendapat, ada yang mengatakan enam bulan sekali mereka berbalik, ada pula yang mengatakan sekali setahun pada hari Asyura, ada pula yang mengatakan sembilan tahun dan sebagainya; dan perhitungan waktu itu tidaklah penting untuk diketahui. Anjing peliharaan mereka sama pula halnya dengan keadaan mereka. Anjing itu dalam keadaan membujurkan badan dengan kedua tangannya berada di dekat pintu gua. Suasana dalam gua itu sangat menyeramkan. Siapa saja yang ingin masuk hendak melihat keadaannya, tentulah mereka akan merasa takut, dan melarikan diri. Tak seorangpun yang berani masuk menyentuh gua itu. Tuhan menciptakan suasana seram dan menakutkan dalam gua itu, menurut Ibnu Kasir agar jangan seseorangpun yang mendekat dan menyentuh mereka.
Sampai kelak datang ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT, sebab peristiwa itu mengandung hikmah yang benar, dan atasan yang kuat bahwa janji Allah itu benar dan hari kiamat pasti datang.


2.Surah Al Kahfi ayat 19
Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan tentang bangunnya mereka dari tidur. Keadaan mereka, badan, kulit, rambut dan lain-lain sama halnya sewaktu sebelum mereka tidur. Semuanya sehat dan semuanya masih utuh, bahkan pakaian yang melekat di badan-badan mereka tetap utuh. Allah SWT memperlihatkan kepada mereka keagungan, kebesaran dan kekuasaan Nya, dan keajaiban serta keluarbiasaan perbuatan Nya terhadap makhluk Nya. Karena itu iman mereka tambah kuat untuk melepaskan diri dari penyembahan-penyembahan dewa dewa. Dan bertambah ikhlaslah hati mereka untuk semata-mata menyembah Allah Yang Mana Esa.
Kemudian setelah mereka bangun dari tidur yang lama itu, mereka saling bertanya satu sama lain untuk mengetahui keadaan mereka serta ketentuan Allah terhadap mereka sehingga mereka akhirnya dapat menarik pelajaran dan bukti keagungan Allah SWT. Bertambah yakinlah hati mereka, dan bersyukur atas segala nikmat dan kemuliaan yang dianugerahkan Allah kepada mereka.
Berkatalah salah seorang mereka kepada kawan-kawannya: "Berapa lama kalian tinggal dalam gua ini." Dia menyatakan ketidaktahuannya tentang keadaan dirinya sendiri selama masa tidur itu lalu meminta kepada lainnya untuk memberikan keterangan. Kawan-kawannya menjawab: "Kita tinggal dalam gua ini sehari atau setengah hari". Yang menjawab itupun tidak dapat memastikan berapa lama mereka tinggal sehari atau setengah hari, karena pengaruh tidur masih belum lenyap dari jiwa mereka. Mereka belum melihat tanda-tanda yang menunjukkan lamanya di gua itu. Kebanyakan ahli tafsir mengatakan waktu mereka datang memasuki gua dulunya pada pagi hari, kemudian waktu Tuhan membangunkan mereka dari tidur adalah sore hari. Karena itulah orang yang menjawab ini menyangka bahwa mereka di gua itu adalah satu atau setengah hari. Kemudian berkata lagi kawan-kawannya yang lain: "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lama kamu tinggal di sini". Kata-kata kawan-kawan mereka yang terakhir ini sangat bijaksana untuk membantah pernyataan dan jawaban kawan-kawan mereka yang terdahulu. Meskipun mereka diberi Allah berupa karamah (kemuliaan) namun mereka masih berbincang juga tentang diri mereka dengan perkiraan-perkiraan. Seorang wali boleh berbicara hal yang bukan masalah iktiqadiyah dengan perkiraan yang kuat dan boleh jadi salah. Maka pernyataan kawan mereka yang terakhir ini seakan-akan diilhami oleh Allah SWT, atau didasarkan atas bukti-bukti nyata. Sesungguhnya masa yang panjang itu hanya dapat diketahui dan ditentukan secara pasti oleh Allah SWT. Mereka akhirnya menyadari keterbatasan kemampuan mereka untuk mengetahui yang gaib, hal yang gaib ini benar-benar masih kabur bagi mereka. Setelah sadar itu, barulah perhatian mereka beralih kepada kebutuhan mereka yang pokok yakni makan dan minum. Disuruhlah salah seorang di antara mereka pergi ke kota dengan membawa uang perak untuk membeli makanan. Menurut riwayat namanya Tamlikha. Sebelum membeli itu terlebih dahulu dia hendaknya memperhatikan makanan itu mana yang halal dan mana yang haram, mana yang baik dan mana yang kurang baik. Makanan yang halal dan baik itulah yang dibawa kembali ke tempat perlindungan mereka. Dipesankan pula kepada utusan ke kota itu agar dia berhati-hati dalam perjalanan, baik sewaktu masuk ke kota maupun kembali dari kota jangan sampai dia memberitahukan kepada seorang pun tentang keadaan diri dan tempat mereka. Dari ayat yang artinya (maka suruhlah) salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dipetik suatu hukum yang berhubungan dengan wakalah (berwakil). Yakni seseorang yang dibolehkan menyerahkan kepada orang lain, sebagai ganti dirinya, urusan harta dan hak semasa hidupnya. Kata Ibnu Araby ayat ini paling kuat untuk menjadi dasar wakalah (berwakil).

3.Surah Al Kahfi 20
Kemudian penghuni gua itu meneruskan lagi pembicaraannya kepada kawan-kawannya berkenaan dengan penugasan salah seorang temannya untuk pergi ke kota. Dia memperingatkan jika sampai penduduk kota itu yang menurut perkiraannya masih orang-orang kafir mengetahui tempat persembunyian mereka, tentulah mereka akan dipaksa lagi untuk mengikuti agama berhala; jika mereka menolak tentulah akan dibunuh dengan lemparan batu, suatu cara pembunuhan pada masa dahulu bagi mereka yang berani melawan politik raja atau agama negara. Kota yang akan didatangi itu ialah kota Afasus dan rajanya menurut persangkaan mereka masih Decyanus yang lalim itu. Padahal raja itu tidak ada lagi, karena dia berkuasa pada berabad-abad yang silam. Jika sekiranya terjadi mereka dipaksa lagi untuk memeluk agama Decyanus itu, maka mereka tidak akan memperoleh kebahagiaan dan keberuntungan untuk selama-lamanya, baik dalam kehidupan duniawi ataupun ukhrawi. Orang yang menganut suatu agama karena dipaksa, maka pada mulanya jituanya menolak segala ketentuan-ketentuan dari agama itu, tetapi lama-kelamaan kemungkinan besar jituanya tidak akan menolak dan seterusnya memandang balk agamanya yang baru itu. Maka jika terjadi demikian itu sesat dan sengsaralah dia untuk selama-lamanya, tetapi bilamana seseorang dipaksa dengan ancaman pindah kepada kafir, lalu dia melahirkan kekafirannya, tapi batinnya tetap Islam, dan sampai akhir hayatnya tidak pernah memandang baik agama yang dipaksakan itu, maka dia tetap dalam Islam.

4.Surah Al Kahfi ayat 21
Dalam ayat ini, Allah SWT menceritakan perkembangan mereka selanjutnya. setelah Tamlikha pergi ke kota untuk berbelanja dengan membawa uang perak dan kawan-kawannya itu, tampaklah olehnya suasana kota Afasus jauh berbeda dan apa yang diperkirakannya dari teman-temannya. Saat dia datang ke kota itu, ditemukannya rakyatnya sudah beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hanya saja terjadi dalam masyarakatnya perpecahan, ada golongan yang beriman penuh kepada kejadian hari kiamat, ada pula golongan yang menjadi ragu-ragu terhadap hari kiamat itu. Ada yang mengatakan kiamat itu dengan roh saja, ada pula yang mengatakan kiamat itu dengan roh dan jasad.
Maka kehadiran Tamlikha ke kota ini akan melenyapkan perpecahan itu dengan mengembalikan masyarakatnya kepada iman-iman yang sempurna kepada kekuasaan Allah SWT.
Sebagaimana Allah membangkitkan Ashabul Kahfi itu dari tidurnya, supaya mereka saling bertanya satu sama lain tentang diri mereka, sehingga keimanan mereka tambah sempurna, demikian pulalah Tuhan mempertemukan penduduk kota itu dengan Ashabul Kahfi, ketika mereka berselisih tentang masalah hari kiamat itu, sehingga karenanya perpecahan mereka akan menjadi lenyap dan keimanan mereka kepada kekuasaan Tuhan akan menjadi sempurna. Dengan terjadinya pertemuan penduduk kota itu dengan Ashabul Kahfi, maka yakinlah mereka bahwa hari kiamat itu benar-benar akan terjadi dan bahwa manusia di waktu itu dibangkit dari kubur dengan tubuh dan rohnya, sebagai kebangkitan Ashabul Kahfi situ.
Menurut riwayat pangkal pertemuan mereka dengan Tamlikha itu sewaktu dia membayar makanan dan minuman dengan uang peraknya. Pada uang perak itu terdapat gambar raja Decyanus. Penjual bahan makanan itu menjadi heran dan kaget, karena itu mata uang logam tersebut kemudian dibawanya kepada pejabat di kota itu, lalu diadakanlah pemeriksaan terhadap Tamlikha. Akhir dari pemeriksaan itu adalah ditunjukkannya gua itu dengan segala penghuninya. Peristiwa ini menimbulkan kegemparan dalam masyarakat. Rakyat dan rajanya menyaksikan keadaan yang luar biasa yang membawa mereka kepada persatuan, karena kesatuan keyakinan akan terjadinya hari berbangkit itu. Golongan yang sebelumnya ragu-ragu terhadap hari kiamat, dengan persaksian mereka terhadap peristiwa ini, berubah dengan beriman dengan iman yang sempurna bahwa Allah swt itu kuasa menghidupkan orang yang sudah mati, mengembalikan jasad mereka sebagaimana bentuk semula ketika roh itu diambil. Maka dalam ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa dipertemukannya Ashabul Kahfi dengan penduduk kota Afasus itu supaya mereka mengetahui dengan yakin bahwa janji Allah itu benar-benar dan kedatangan hari kiamat (hari berbangkit) tidak ada keraguan lagi.
Setelah pertemuan antara raja, dan pemuka-pemuka rakyat dengan Ashabul Kahfi itu selesai, maka Ashabul Kahfi kembali ke tempat pembaringannya, dan pada waktu itulah Allah SWT mencabut roh mereka untuk diangkat ke sisi Nya. Kemudian pada hari itu bermusyawarahlah raja dan pemuka-pemuka itu. Berkatalah sebagian dari mereka kepada lainnya: "Dirikanlah sebuah bangunan besar sebagai peringatan di dekat mulut gua itu". Umpamanya rumah pemondokan para musafir, kolam-kolam dan tempat-empat istirahat bagi peziarah-peziarah dan lain-lainnya. Yang lain mengatakan yakni orang yang terkemuka dan berkuasa: "Kami benar-benar akan membangun sebuah tempat ibadah di dekat mulut gua mereka. Kedua pihak ingin memuliakan Ashabul Kahfi itu, tetapi mereka berbeda pendapat tentang penghormatan itu. Satu pihak menghendaki mendirikan sebuah bangunan besar, sedang pihak yang lainnya ingin mendirikan sebuah mesjid untuk tempat beribadat bagi mereka.
Ahli Kitab yang berada di masa Nabi saw membicarakan tentang Ashabul Kahfi ini. Mereka mengira-ngira jumlah mereka dan lain-lainnya. Sebenarnya Tuhan mereka lebih tahu tentang hal-hal itu dari mereka. Tentang Apakah penduduk Afasus mendirikan sebuah bangunan untuk peringatan atau mereka mendirikan sebuah mesjid untuk tempat beribadat di atas gua itu hanya Tuhanlah yang mengetahuinya.
Membangun mesjid dekat kuburan tidak terlarang dalam agama. Yang sangat dilarang dalam agama ialah menjadikan kuburan sebagai tempat ibadat, sebagaimana sabda Rasulullah saw: Artinya:
Allah mengutuk orang Yahudi dan Nasrani menjadikan kubur-kubur Nabi dan orang-orang saleh mereka menjadi tempat ibadah. (H.R. Bukhari dari Aisyah dan Abdullah Ibnu Abbas)
Nabi juga bersabda: Artinya:
Allah mengutuk wanita-wanita yang ziarah ke kubur dan orang-orang yang mendirikan mesjid-mesjid (tempat-tempat ibadah) di atas kuburan itu, atau memberi lampu-lampu. (H.R. Ahmad, Abu Daud, Tirmizi dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas)
Imam Muslim menambahkan kepada hadis ini perkataan Nabi "Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu adalah mereka-mereka itu menjadikan kuburan Nabi-nabi mesjid (tempat beribadah), tetapi aku melarang kamu berbuat demikian".
Demikianlah Rasul sangat melarang umatnya menjadikan kuburan sebagai tempat-tempat beribadat untuk memuliakan orang-orang yang dikubur itu. Bahkan di antara ulama-ulama seperti Ibnu Hajar dalam kitabnya AZ Zawajir memandang sebagai dosa besar, berdasarkan hadis-hadis yang disebutkan. Dalam sejarah terbukti bangunan di kuburan Nabi-nabi atau wali-wali cenderung membawa orang kepada penghormatan yang berlebih-lebihan, yang demikian adalah peluang kepada syirik. Penyembahan terhadap patung-patung justru berasal dari kasus yang demikian itu. Menurut Ibnu `Abbas tentang firman Allah SWT:

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا (23)
Artinya:
Dan mereka berkata : "Jangan kamu sekali-kali meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa', Yagus, Ya'uq dan Nasr". (Q.S. Nuh: 23)
Suwa', Yagus, Ya'uq dan Nasr adalah pada mulanya nama hamba-hamba Allah yang saleh. Sesudah mereka meninggal, kuburan mereka diziarahi, lalu mereka buatkan patung-patung (untuk mengingati amal saleh mereka), lama-kelamaan patung itu mereka sembah. (H.R. Ahmad, Abu Daud, Tirmizi dari Ibnu Abbas)
Khusus mengenai ziarah kubur, Rasul saw kemudian membolehkannya.
Sabdanya: Artinya:
Dulu aku melarang kamu ziarah kubur, sekarang ziarahilah! (H.R. Muslim dari Baridah Ibnu Al Hasib al Aslami)
At Tirmizi memberikan tambahan pada hadis di atas dengan artinya; bahwasanya ziarah ke kubur itu mengingatkan orang kepada akhirat.

5. Surah Al Kahfi ayat 22
Sesudah selesai menceritakan kisah Ashabul Kahfi, maka dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan perselisihan pendapat yang terjadi pada masa Rasulullah saw mengenai cerita ini. Mereka yang berselisih itu di antara ahli tafsir ada yang mengatakan orang-orang Yahudi ada pula yang mengatakan orang-orang Nasrani yang hidup pada zaman Rasulullah saw. Menurut riwayat, beberapa orang Nasrani dari Najran memperbincangkan dengan Rasulullah saw tentang jumlah Ashabul Kahfi itu. Berkata orang Nasrani dari aliran "malkaniah" mereka itu berjumlah tiga orang, yang ke empat adalah anjingnya." Berkata orang Nasrani dari aliran "Ya'qubiyah": Mereka itu berjumlah lima orang yang ke enam adalah anjingnya. Sedangkan golongan Nasturiyah mengatakan: "mereka itu tujuh orang yang ke delapan anjingnya". Dalam hal ini Allah berfirman bahwa mereka mengatakan tiga atau lima orang itu hanyalah sebagai rabaan semata-mata, yakni tidak disertai dengan pengetahuan, seperti melemparkan batu pada malam hari ke suatu sasaran yang tidak tampak oleh mata. Tetapi Tuhan tidak menyatakan terhadap orang yang mengatakan tujuh orang sebagai rabaan yang tidak menentu. Oleh karena itu menurut Ibnu 'Abbas, pendapat yang mengatakan: Mereka itu tujuh orang dan yang kedelapan adalah anjingnya, inilah yang benar. Sebab Allah SWT menyatakan kedua pendapat sebelumnya sebagai rabaan yang tidak menentu. Maka hal ini menunjukkan bahwa perkataan yang ke tiga itulah yang benar dan menunjukkan bahwa ucapan itu berdasarkan pengetahuan, keyakinan dan kemantapan iman.
Adapun nama-nama yang tujuh yang bermacam-macam pengucapannya tidak ada yang dapat dipegangi, karena bukan nama Arab; demikian kata Al Hafiz Ibnu Hajar dalam sejarah Bukhari. Dalam tafsir Ibnu Kasir disebutkan nama-nama mereka sebagai berikut: Maksalmina (yang tertua), Tamlikha, (yang ke dua), Martunus, Birunus, Dominus, Yatbunus, Falyastatyunus dan nama anjingnya Hamran atau Qitmir. Kemudian Allah SWT memerintahkan Rasul Nya untuk mengemukakan kepada mereka yang berselisih tentang jumlah pemuda penghuni gua itu bahwa Allah SWT lebih mengetahui jumlah mereka itu. Tidaklah perlu banyak memperbincangkan hal yang serupa tanpa pengetahuan, lebih baik menyerahkannya kepada Tuhan. Bilamana Tuhan memberitahukan kepada rasul Nya tentang hal itu, tentulah Rasul akan menyampaikannya pula kepada umatnya sepanjang ada manfaatnya untuk kehidupan mereka dunia dan akhirat. Jika hal itu didiamkan seharusnya umatnya mendiamkan diri pula dan tidak perlu membuang-buang tenaga untuk memikirnya.
Tetapi kemudian Tuhan menegaskan, "Tidaklah ada orang yang mengetahui jumlah mereka kecuali sedikit". Di sini Tuhan mengisyaratkan adanya segelintir manusia yang diberi Allah ilmu untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya tentang penghuni-penghuni gua itu. Siapakah yang sedikit itu? Ibnu Abbas seorang sahabat yang masih muda pada zamannya dipandang tokoh ilmiah di segala bidang mengatakan bahwa dia termasuk yang sedikit itu. Ahli-ahli sejarah, ahli-ahli ilmu purbakala, mungkin dimasukkan ke dalam golongan yang kecil itu bilamana mereka dengan kegiatan penelitiannya memperoleh fakta-fakta sejarah tentang umat masa lampau, kemungkinan pula termasuk golongan kecil itu. Tetapi yang terpenting untuk umat Islam dari penonjolan ini bukanlah mencari keterangan tentang jumlah pemuda-pemuda itu, melainkan bagaimana iktibar dan pelajaran yang bermanfaat untuk membina iman dan takwa kepada Allah SWT.
Allah SWT melarang Nabi Muhammad dalam dua hal; Pertama tidak boleh memperdebatkan lagi dengan orang-orang Nasrani tentang pemuda-pemuda itu, dan kedua tidak boleh meminta keterangan mengenai pemuda-pemuda itu kepada mereka. Pada larangan pertama, Nabi diperintahkan oleh Tuhan untuk menjauhi perdebatan dengan orang-orang Nasrani mengenai hal ihwal pemuda penghuni gua itu, kecuali dengan suatu perdebatan yang ringan dan santai. Cukuplah sekiranya Rasul menyampaikan cerita mereka itu sebagaimana yang diwahyukan Allah tanpa menyalahkan keterangan mereka mengenai bilangan penghuni gua itu tidak pula membodoh-bodohkan mereka mengenal Cerita itu sendiri. Karena cara demikian itu tidak ada faedahnya. Tujuan pokok cerita itu sendiri ialah memberi suri teladan dan pengajaran serta keyakinan akan kepastian terjadinya hari kiamat.
Di lain surat dengan maksud yang sama Allah berfirman:

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ
Artinya:
Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang lalim antara mereka. (Q.S. Al Ankabut: 46)
Pada larangan kedua: Allah SWT memerintahkan kepada Nabi saw agar tidak meminta keterangan, tentang pemuda-pemuda itu kepada orang-orang Nasrani disebabkan mereka itu sungguh-sungguh juga tidak punya dasar pengetahuan tentang itu. Mereka secara rabaan tanpa dalil yang kuat.

6.Surah Al Kahfi ayat 23
Sewaktu kaum musyrikin mengajukan kepada Nabi Muhammad saw tiga buah pertanyaan itu, saran dari pendeta-pendeta Yahudi di Madinah, pertama tentang Ashabul Kahfi, kedua tentang Zulkarnain dan ketiga tentang roh, maka beliau mengatakan: "Besok pagi saya akan menjawab apa yang kalian tanyakan". Beliau tidak menyelipkan dalam perkataannya kata "Insya Allah". Sebelum Allah mengakhiri cerita Ashabul Kahfi, maka dalam ayat ini, Allah SWT memperingatkan Rasul Nya, hendaknya beliau tidak mengulangi ucapan demikian itu. Tidaklah patut beliau mengucapkan janji atau suatu pernyataan untuk suatu pekerjaan dengan pasti berkata: "Besok pagi akan kukerjakan", padahal seharusnya beliau mengetahui bahwa tidak seorangpun yang tahu dengan pasti yang akan terjadi besok pagi.
Firman Allah:

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا
Artinya:
Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. (Q.S. Lukman: 34)
Apa yang beliau janjikan kepada kaum musyrikin itu, ternyata lima belas hari kemudian baru beliau dapat memenuhinya, yakni sesudah wahyu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu diturunkan.

7. Surah Al Kahfi ayat 24
Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa perkataan Nabi di atas hendaklah disertai dengan kata-kata "Insya Allah" yang artinya "jika Allah mengizinkan". Sebab kemungkinan seseorang akan meninggal dunia sebelum hari besok itu datang dan barangkali ada suatu halangan. sehingga dia tidak dapat mengerjakan apa yang diucapkannya itu. Maka bilamana dia menyertakan dengan kata "Insya Allah", tentulah dia tidak dipandang pendusta dalam janjinya itu. Sekiranya seseorang terlupa mengucapkan kata-kata Insya Allah dalam janjinya itu, hendaklah dia mengucapkan kalimat itu sewaktu dia teringat kapan saja. Sebagai contoh pernah Rasul saw mengucapkan kata Insya Allah setelah dia teringat. Beliau mengucapkan : "Demi Allah pasti akan memerangi Quraisy, kemudian beliau diam lalu berkata: "Insya Allah...."
Sesudah Allah memberikan kepada Nabi Saw tuntunan tentang adab terhadap Tuhan ketika berjanji, atau berniat untuk melakukan suatu pekerjaan yang akan datang, maka kemudian Allah SWT menyuruh Rasul Nya supaya mengharapkan dengan sangat kepada Nya kiranya Allah memberikan petunjuk kepada beliau ke jalan yang lebih dekat kepada kebaikan dan lebih kuat untuk dijadikan alasan bagi kebenaran agama. Allah SWT telah memenuhi harapan Nabi saw tersebut dengan menurunkan cerita Nabi-nabi beserta umat mereka masing-masing pada segala zaman. Dan kisah Nabi-nabi dan umatnya itu, umat Islam memperoleh pelajaran yang sangat berfaedah bagi kehidupan mereka dunia dan akhirat.

8. Surah Al Kahfi ayat 25
Kemudian Allah SWT kembali lagi menceritakan kisah Ashabul Kahfi. Dalam ayat ini Allah menjelaskan tentang berapa lama mereka tinggal dalam gua itu, yakni sesudah Allah menutup pendengaran mereka. Lamanya mereka tidur dalam gua itu tiga ratus tahun menurut perhitungan ahli-ahli kitab berdasarkan tahun matahari atau tiga ratus tahun lebih sembilan tahun menurut perhitungan orang Arab berdasar bilangan tahun bulan.
Penjelasan Tuhan sebagai mukjizat bagi Nabi Muhammad saw. Beliau tidak belajar ilmu falak tapi mengetahui selisih hitungan sembilan tahun antara perhitungan matahari selama 300 tahun dengan perhitungan tahun bulan. Setiap seratus tahun matahari, tiga tahun selisih hitungannya dengan tahun bulan. Setiap tiga puluh tahun matahari, selisih hitungannya satu tahun dengan tahun bulan dan setiap satu tahun matahari berselisih sebelas hari dengan tahun bulan.
Pengetahuan demikian tentulah datang dari Tuhan. Tuhanlah yang mengalihkan perhatian Nabi kepada keindahan yang terdapat di permukaan bumi seperti sinar matahari, cahaya bulan dan segala keindahan yang ditimbulkan oleh sinar matahari itu. Pertukaran musim melahirkan keindahan-keindahan, dan pertukaran musim itu sendiri adalah karena perubahan letaknya matahari. Demikian pula tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang yang beraneka ragam dalam hidupnya tergantung kepada sinar matahari yang dikirim Allah ke bumi ini, maka Nabi Muhammad saw diutus kepada umat manusia sebagaimana halnya matahari. Kepada mereka diajarkan bahwa mempelajari segala keindahan yang ada di bumi ini adalah mendekatkan kepada kebenaran daripada mempelajari cerita-cerita lama atau hikayat-hikayat orang-orang zaman dahulu.
Allah berfirman:

لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya:
Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S. Al Mu'min: 57)

9. Surah Al Kahfi ayat 26
Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan Rasul saw agar menyatakan kepada mereka yang masih berselisih tentang berapa lama mereka tidur bahwa Tuhan lebih mengetahui lamanya mereka tidur dalam gua itu. Apa yang sudah diterangkan Allah itu, pastilah benar, dan tidak ada keraguan padanya. Ahli-ahli kitab berselisih tentang waktu lamanya mereka tidur itu seperti halnya mereka berselisih tentang jumlahnya. Sesudah Allah menegaskan bahwa lamanya itu hanya Allah sajalah yang mengetahuinya, karena memang Dialah Yang Maha Mengetahui, maka Dia menegaskan lagi sesungguhnya Dialah yang memiliki ilmu pengetahuan tentang segala yang gaib, baik di bumi maupun di langit. Dia lah Yang Maha Mengetahui segala hal ihwal manusia yang tersembunyi tak ada Sesuatupun yang tertutup bagi Nya. Oleh karena itulah, sewajarnya manusia tidak lagi memperbincangkan berapa lama penghuni gua itu tidur di tempatnya, tapi serahkanlah hal itu kepada Tuhan; karena Tuhan itulah Yang mengetahui hal-hal yang gaib, apalagi hal-hal yang nyata. Sungguh alangkah terangnya penglihatan Tuhan atas segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini, dan alangkah tajamnya pendengaran Nya terhadap segala macam suara dan bunyi dari makhluk Nya. Tidak ada seorangpun yang dapat menjadi pelindung bagi penghuni-penghuni gua itu selain Allah. Dialah yang memelihara dan mengurus segala hal ihwal mereka semua dengan sebaik-baiknya. Dan Dia tidak bersekutu dengan seorangpun untuk membantu menolong Dia dalam menetapkan keputusan.

10. Surah Al Kahfi ayat 27
Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan Rasul Nya supaya beliau membacakan Alquran yang diwahyukan kepadanya, serta mengamalkan isinya, menyampaikan kepada umat manusia dan mengikuti perintah dan larangan Nya yang tercantum di dalam Alquran itu. Adalah tugas Rasul saw untuk menyampaikan wahyu Allah itu kepada umat manusia, sebagaimana dijelaskan dalam firman Nya:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Artinya:
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu tidak kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat Nya, Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir" (Q.S. Al Maidah: 67)
Janganlah hendaknya beliau memperdulikan perkataan orang-orang yang menghendaki agar ayat-ayat Alquran itu didatangkan sesuai dengan kepentingan mereka. Mereka berkata: "Datangkan ayat Alquran yang lain dari pada ini atau ganti dengan yang lain". Sesungguhnya tidak ada seorangpun yang dapat mengganti ataupun merubah kalimat-kalimat Alquran itu, baik kalimat perintah ataupun larangan, baik kalimat ancaman terhadap mereka yang melakukan kemaksiatan ataupun kalimat janji Tuhan kepada mereka yang taat dan berbuat kebaikan. Hanya Allah sendiri Yang Kuasa merubah atau mengganti kalimatnya berdasar hikmah Nya. Firman Allah SWT:

يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ (39)
Artinya:
Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi Nyalah terdapat umul kitab (Lohmahfuz). (Q.S. Ar Ra'd: 39)
Pergantian sesuatu ayat oleh Allah dalam Alquran adalah dengan maksud untuk mencapai tujuan yang lebih besar manfaatnya, sebagaimana firman Nya:

وَإِذَا بَدَّلْنَا آيَةً مَكَانَ آيَةٍ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ
Artinya:
Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan Nya. (Q.S. An Nahl: 101)
Segala ketentuan atau hukum yang telah ditetapkan Tuhan haruslah diketahui. Jika tidak dipatuhi, pasti akan mendapat hukuman Tuhan yang sebelumnya telah diancamkan kepada orang-orang yang melanggar garis-garis yang ditetapkan Nya. Tak seorangpun yang dapat menjadi pelindungnya, kecuali Allah SWT karena kekuasaan Allah meliputi makhluk Nya. Tak seorangpun yang dapat lolos dari hukuman yang telah ditetapkan Nya kepadanya.

11. Surah Al Kahfi ayat 28
Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan Rasul Nya agar dia bersabar dan dapat menahan dirinya untuk duduk bersama dengan beberapa orang sahabatnya yang tekun dalam ibadah sepanjang hari karena mengharapkan rida Allah SWT semata-mata. Sahabat-sahabat itu hidup dalam kesederhanaan jauh dari kenikmatan duniawi. Mereka itu antara lain ialah: Amar bin Yasir, Bilal, Suhaib, Ibnu Mas'ud dan sahabat-sahabat lainnya yang keadaannya sebagaimana mereka ketahui.
Ada diriwayatkan bahwa `Uyainah bin Hisni Al Fazary datang kepada Nabi Muhammad saw sebelum dia masuk Islam. Ketika itu beberapa orang sahabat Nabi yang fakir di sampingnya. Di antaranya adalah Salman Al Farisi yang sedang berselimut jubah dan tubuhnya memancarkan keringat, di tangannya daun kurma yang sedang dibelah-belahnya kemudian dianyamnya. Berkata `Uyainah itu kepada Rasul saw: "Apakah bau mereka itu (sahabat-sahabat yang fakir) tidak mengganggumu? Kami ini pemuka-pemuka suku Mudar dari bangsawan mereka. Jika kamu masuk Islam maka semua suka Mudar akan masuk Islam. Tidak ada yang mencegah kami untuk mengikutimu, kecuali kehadiran mereka itu. Maka oleh karena itu, jauhkanlah mereka itu, agar kami mengikutimu atau adakan untuk mereka itu majelis tersendiri, dan kami majelis tersendiri pula. Kemudian turunlah ayat ini. Di surat yang lain Allah berfirman yang maksudnya sama dengan ayat ini.

وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ (52)
Artinya:
Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari sedang mereka menghendaki keridaan Nya Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang lalim. (Q.S. Al An'am: 52)
Sikap kaum musyrikin terhadap sahabat-sahabat Nabi yang fakir itu sama halnya dengan sikap kaum Nuh terhadap pengikut-pengikut Nabi Nuh as sebagaimana difirmankan Allah SWT:

قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الْأَرْذَلُونَ
Artinya:
Mereka berkata: "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?". (Q.S. Asy syu'ara: 111)
Sudah semestinya Rasul saw tidak mengindahkan sikap orang kafir itu. Maka Allah SWT memperingatkan beliau agar jangan sampai meninggalkan dan meremehkan sahabat-sahabatnya yang fakir itu, karena hanya didorong oleh kepentingan duniawi atau disebabkan adanya harapan terhadap keimanan orang-orang yang kaya dari kaum musyrikin itu. Para sahabat itu adalah orang-orang yang dengan ikhlas hatinya memilih jalan hidup yang sempit, dan dengan rela mereka meninggalkan segala kelezatan duniawi karena semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT. Rasul saw mengucapkan syukur kepada Allah atas kehadiran mereka itu di tengah-tengah umatnya. Katanya:
Segala puji bagi Allah yang telah mengadakan di tengah-tengah umatku, orang yang aku diperintahkan untuk sabar menahan diriku bersama dia". (H.R. Tabrani)
Maka oleh karena itu, memandang rendah dan meremehkan orang-orang yang hidup miskin dan melarat, tidaklah dibenarkan oleh agama Islam, terutama sekali bilamana mereka itu terdiri atas orang ahli ibadah dan takwa. Allah SWT dengan tegas lagi melarang Muhammad saw menurutkan keinginan pemuka-pemuka kaum musyrikin untuk menyingkirkan orang-orang yang sudah tertutup jiwa mereka untuk kembali kepada Tuhan, tabiat mereka yang buruk, perbuatan-perbuatan mereka yang melampaui batas, kefasikan dan kemaksiatan yang mereka lakukan, menambah gelap hati mereka, akhirnya mereka berkelanjutan dalam dosa.
surat Ali Imran ayat 190-191
Allah berfirman
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dsn mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (QS. Ali Imran : 190-191)

Pernah terjadi peristiwa pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waktu itu Bilal sudah selesai azan subuh di masjid Nabawi, Bilal menebarkan pandangannya ke seluruh ruangan masjid, tapi belum melihat kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini tidak seperti biasanya, karena biasanya, sebelum azan subuh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam udah berada di dalam masjid. Oleh karena itu Bilal mengambil inisiatif untuk menjenguk Nabi shalllallahu ‘alaihi wa sallam ke sebelah masjid, ke rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Setelah mengetuk pintu, dan mengucapkan salam, Bilal dipersilahkan Rasulullallah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam rumah. Dan Bilal terheran-heran serta kaget melihat kondisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ditemukan Bilal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di atas sajadahnya. Pada tempat sujudnya penuh bekas air mata. bahkan jenggot beliau masih basah oleh air mata.
Melihat kondisi seperti itu, Bilal langsung bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang terjadi? Kenapa engkau sampai menangis seperti ini?” Dengan penuh kasih sayang Nabi menceritakan bahwa tadi malam turun wahyu, yang sangat luar biasa. Banyak umatku nanti yang hapal ayat tersebut, tetapi bagi mereka yang tidak paham kandungan makna ayat ini, maka hidupnya akan penuh dengan kecemasan, kekhawatiran, ketidak tentraman dan tidak bahagia sampai akhir hayatnya. Sebaliknya mereka yang memahami makna yang dikandung ayat ini, hidupnya akan tenang, tentram dan bahagia.
Bilal lalu meminta agar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam membacakan wahyu yang turun malam itu, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan surat Ali Imran ayat 190-191 seperti yang sudah dikutip pada awal tulisan ini











































DAFTAR RUJKAN

1.    Al-Quran dan Terjemahannya, Departemen Agama RI
2.    Al-Quran dan tafsirnya,Universitas Islam Indonesia
3.    Prof. Dr.Hamka,Tafsir al-Azhar Juz IV, Pustaka Panjimas
4.    Majalah Nurul Fikri,Ulil Albab, Sosok Cendekiawan Versi al-Qur’an, No.4/II/Ramadhan 1411-Maret 1991

Tidak ada komentar:

Posting Komentar