Para filosof berbeda pendapat tentang ilmu manusia sebelum lahir. Plato dan pengikutnya mengatakan: “Ketika manusia terlahir ke dunia, ia mengetahui segala sesuatu. Dan yang dilakukan oleh seorang guru hanyalah mengingatkan (to remember). Manusia menjadi lupa akan ilmu tersebut ketika berpindah dari alam spiritual ke alam materi.
Plato berpendapat atas kekalnya (eternal/qadîm) nafs (soul/jiwa), sebab ruhnya yang nonmateri (mujarrad) berhubungan dengan akal non materi. Hal ini mencakup seluruh wacana ilmu dalam semua aspek keilmuan, hingga pada persoalan eksperimen manusia. Mereka mencontohkan seseorang yang kehilangan sesuatu, tetapi kemudian menemukannya lagi akibat dari proses mengingat tersebut.
Dalam pandangan penulis, klaim ini lemah. Al-Quran secara jelas mengatakan bahwa sebelum dilahirkan kita tidak mengetahui sesuatu pun, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS An-Nahl [16]:78).
Kata “Sesuatu pun” ditulis dalam format kata benda nakirah dalam konteks ‘nafi’ untuk menunjukkan kemutlakan.[1][1] Kemudian Allah mengatakan bahwa untuk kalian diberikan telinga, mata dan hati (af`idah) untuk memperoleh pengetahuan Af’idah. Kata jamaknya adalah fu’ad yang berarti hati, kalbu dan ruh, yakni fakultas untuk mempersepsi sesuatu.
Ayat lain yang diklaim pemikiran Plato, adalah “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS al-Insan:1). Kita dapat menyanggah, sesuatu (thing) itu ada tapi belum bisa dinamai (unknown), jadi ia belum bisa menjadi entitas.
Cara mengakses Ilmu versi Filosof Hikmah
Dalam keadaan kita tidak mengetahui, bagaimana mungkin ilmu dapat kita peroleh. Dan bagaimana terjadinya proses transfer ilmu tersebut? Ilmu tidak memiliki potensi untuk dipindahkan. Dalam hal ini, ilmu tidaklah terlepas dalam dua kategori. Pertama, Ilmu adalah ‘kaifiyat an nafsaniyah (kualitas mental/psychic quality), yaitu aksiden (‘ardh); atau kedua, ‘wujud khusus’. Nah, kedua kategori tersebut tidak bisa dipindahkan kepada yang lain.
Oleh karena itu, para filosof hikmah berprinsip bahwa aktivitas pembelajaran intinya adalah menghubungkan premis-premis (mukadimah) dengan akal aktif (akal fa’al/ intellectus agens). Ibarat matahari yang menyinari hal-hal yang tidak diketahui. Itulah yang dilakukan oleh akal aktif sehingga membuat seseorang menemukan realitas. Jadi jiwa yang menyatu dengannya akan mencerap realitas-realitas.
Perolehan Ilmu Menurut Pandangan al-Quran
Al-Quran mengatakan “Allah memberikan ilmu”. Ketika seorang guru mengajarkan ilmu, sejatinya Allah-lah yang menganugerahkan ilmu tersebut. Sebab ilmu adalah wujud (eksistensi) dan yang mewujudkannya adalah Allah sendiri. Seorang petani bekerja mencangkul tanah dan menyiram air, tetapi hakekatnya Allah-lah yang menumbuhkannya. Al-Quran mengatakan, “Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?” (QS. al-Waqi’ah: 64), dalam keadaan manusia menyakini Allah atau tidak. Jika seluruh kondisi dan syarat telah sempurna maka hasilnya sudah bisa diramalkan. Seorang petani kafir yang menaburkan benih, menyiraminya dengan air, pada musim yang sesuai dan memenuhi semua syaratnya maka ia akan memanen hasilnya. Allah Swt memberikan anugerah-Nya secara mutlak (umum), baik untuk si kafir atau tidak. Begitu pula halnya dengan ilmu. Jika berbagai prasyarat terpenuhi, melalui pengujian dan penelitian maka ia seperti air yang telah disiramkan ke bibit oleh para petani. Setelah semuanya dipersiapkan, maka ilmu akan dianugerahkan oleh Tuhan.
Yang jelas, ini adalah suatu karunia dari Allah yang diberikan kepada yang mengetahui dan yang tidak mengetahui. Akan tetapi, seseorang yang mengetahui atau menyadari (to aware) adalah yang terbaik dan setiap yang memiliki ketakwaan yang tinggi, maka ilmunya akan bertambah terang (bercahaya).
Ayat-ayat yang Menunjukkan Anugerah Ilmu dari Allah Ta’ala
“Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS An-Nisa [4]:113). “Allah telah menurunkan kepadamu nabi, kitab dan hikmah dan kamu mengetahui atas sesuatu yang belum kamu ketahui” (QS Al-Kahfi [18]:110). Ketika Allah menjadikan nabi mengetahui, maka manusia biasa juga bisa mengetahui sebab sama-sama manusia, meskipun berbeda kualitas ilmunya.
Ayat lain “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-Alaq:3-5)
Memberikan pengajaran dengan perantaraan kalam kepada manusia dan Allah mengajarkan kepada manusia atas apa yang tidak diketahuinya.
Allah berfirman, Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu,” (QS Al-Maidah [5]:4). Bahkan pengajaran itu juga bisa dilakukan terhadap binatang seperti anjing, “...kamu mengajarnya (anjing) menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu.”
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya,” (QS Al-Baqarah [2]: 282).
Ayat ini mengatakan bahwa apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah menuliskannya di atas kertas dan diberikan kepada yang bersangkutan. Kelanjutan ayat mengatakan bahwa hendaklah penulis menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya. Allah Swt memberikan pengetahuan kepadamu dan janganlah kamu merasa enggan.
Dari ayat ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa semua ilmu, yang berkenaan dengan ilmu sosial, empiris dari level penemuan (discovery) hingga tahap implementasinya adalah hasil dari pemberian Allah. Tentu saja ilmu tersebut akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Mengapa Tuhan tidak mengajarkan ilmu tentang listrik di zaman itu misalnya? Di zaman itu belum ada penemuan tentang listrik karena memang belum dibutuhkan tidak seperti keadaan sekarang. Demikian juga ilmu-ilmu tentang mobil belum bisa berkembang di zaman tersebut sebab masyarakat merasa cukup dengan kuda, keledai, dsb.
Metode Meraih Ilmu
Pengetahuan bisa diperoleh dengan dua jalan; Pertama bayan dengan bantuan dari Allah dan kedua melalui Qalam.
Pertama, Allah sendiri mengafirmasikan: “(Tuhan) Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan Al Quran. Dia menciptakan manusia. Mengajarkan Bayan” (QS ar-Rahman:1-4).
Bayan adalah apapun yang ada di dalam benak manusia dan bisa disampaikan kepada yang lain. Bayan di sini mutlak. Yang tentunya, tidak diharuskan melalui bahasa. Terkadang melalui bahasa dan yang lain terkadang melalui musik Sebagai contoh: musik yang bisa dijadikan sebagai bayan (penjelasan). Seluruh perantara yang kita miliki akan menjelaskan sebuah jenis hakekat. Seperti halnya sebuah komputer yang kita gunakan, akan memunculkan satu topik pembahasan, dan itu tipe dari bayan.
Allah mengajarkan Bayan (Ar-Rahman:1-4) tidak hanya melalui bahasa dan ucapan saja tapi melalu berbagai wasilah dan metoda. Alamahul Bayan yakni menyampaikan bayan dengan gerakan, perkataan, isyarat, melalui perantara alat musik dengan suatu syarat tidak dimanfaatkan untuk jalan haram.
Tranfser Ilmu lewat Qalam
Jalan kedua adalah melalui qalam. Qalam dalam pandangan para ulama memiliki arti yang sangat umum, namun dalam perjalanannya lebih banyak digunakan pada salah satu ekstensi, yaitu pena.
Qalam adalah sesuatu yang melalui perantaranya sesuatu lain dipindahkan. Yang menurut para filosof (ahli hikmah) adalah wujud awwali, lantaran melalui perantaranya, akan muncul semua keberadaan. Al-quran mengatakan ‘Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,’ (QS. Al-Qalam:1).
Akal awal adalah qalam Ilahi dan bahwasanya melalui perantara qalam, akan munculnya semua keberadaan yang lain. Begitu halnya kalian dengan melalui sebuah qalam (pena) yang berada di tanganmu, engkau akan memindahkan sebuah topik permasalahan. Jadi al-Quran memberikan kepada manusia dua perantara. Salah satunya dengan bayan (penjelasan) yang denganya teraih dan tersebar ilmu melalui bahasa, isyarat dll. Yang lain adalah melalui qalam, wasilah untuk mentransfer ilmu.
Menggali ilmu dari al-Quran
Isu lain, jika seseorang mengilmui al-Quran secara maksimal, apakah itu berarti ia tidak memerlukan ilmu-ilmu yang ada sekarang ini? Artinya ia cukup menggali hikmah (wisdom) dan filsafat, rumus-rumus kedokteran dan matematika serta seluruh ilmu mutakhir dari al-Quran? Ini adalah pendapat sebagian orang yang tentu saja dituntut untuk memberikan jawaban yang ilmiah. Sebab dengan demikian mereka tidak perlu bersusah payah untuk meneliti dan mempelajari ilmu-ilmu yang lain lagi karena semuanya telah termuat di dalam al-Quran. Dalilnya “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (QS. An-Nahl [16]: 89).
Mereka katakan bahwa al-Quran adalah penjelas segala sesuatu. Dikarenakan pada ‘tibyanan likulli syai’in’ adalah ‘kul’ istighraq. Jadi ‘tibyanan likulli syai’in’ yakni menerangkan segala sesuatu di dalam al-Quran. Atau juga bersandar pada ayat lainnya, “Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al Kitab” (QS. Al-An’am:38). Yakni kami tidak lewatkan sesuatu di dalam al-Quran. Ayat ini menunjukkan bahwa segala sesuatu ada di dalam al-Quran termasuk juga masalah ilmu.
Pandangan kedua mengatakan, tidak semua ilmu termuat di dalam al-Quran. Yang ada di dalam al-Quran hanyalah ilmu-ilmu agama dan ilmu yang memberikan petunjuk bagi manusia. Ini seperti seseorang yang menulis kitab kedokteran, setelah itu mengatakan bahwa dalam kitab kedokteran ini semua hal termuat. Semua hal di sini, tidak berarti termasuk juga ilmu- ilmu fisika dan kimia, tapi sesuatu yang dibutuhkan bagi ilmu kedokteran kalian ada di dalam kitab ini. Atau seseorang yang menulis sebuah kitab yang berhubungan dengan filsafat, dikatakan kepadanya bahwa segala sesuatu yang kalian inginkan, ada di dalam kitab ini. Yakni, perkara yang berhubungan dengan filsafat, ada di dalam kitab filsafat tersebut. Demikian juga dengan al-Quran.
Ketika dikatakan al-Quran, ‘menjelaskan segala sesuatu’ atau ‘tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh mahfuz)’ (QS. Al-An’am:59), yakni hanya segala sesuatu yang menyangkut perkara agama saja, atau minimal ilmu-ilmu tentang manusia dan bukan semua ilmu dibicarakan di dalam al-Quran.
Ala kulli hal, semua adalah hipotesa yang memerlukan kajian ilmiah yang memadai.
Interpretasi atas Ayat ‘Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib’
Al-Quran mengatakan, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh mahfûz).” (QS. Al-An’am:59). Telah kami katakan bahwa ilmu itu dari sisi Allah, tetapi yang ingin dikaji di sini adalah bagaimana caranya ilmu Allah itu disampaikan kepada yang lain?
Allah memiliki suatu ilmu, yang tidak diberikan kepada siapapun, yang hanya berada di sisi-Nya ‘Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri’. Dalam ayat ini, alif lam pada ‘al-ghaib’ adalah ‘alim lam jins’,yang menunjukkan keabsolutannya, di mana tidak ada yang mengetahuinya selain Allah, bahkan nabi dan imam juga tidak mengetahui.
Gaib mutlak tersebut milik Allah, yakni Allah memiliki ilmu atas seluruh hakekat jauh hari sebelum alam ini diciptakan.
Ada sebagian yang diturunkan dari gaib mutlak kepada alam jasmani (corporeal wordl) karena kemaslahatannya. Dalam surat al-Hijr dikatakan, “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.” (QS. Al-Hijr:21).
Mafatih adalah jamak dari maftah dengan makna khazanah-khazanah. Dalam tafsiran lain ditulis Mafâtîh al-ghaib. Jadi ‘Mafatih al Ghaib’ bukan sesuatu yang datang di alam ini atau sesuatu yang akan muncul kemudian. Nabi dan keturunannya yang suci juga memiliki ilmu tentang sesuatu yang sudah ada di alam ini atau yang akan datang, tapi tidak mengetahui ‘Mafatih al Ghaib’. Ilmu para nabi, imam dan para auliya’ adalah pemberian Allah juga tapi terkait dengan hal-hal tadi saja. Al-Quran menegaskan: “Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia”.
Mafâtih al Ghaib dan Kitab al Mubîn
Ketika membahas ayat ‘Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib’, Allamah Thabathabai mengatakan bahwa kitab al mubîn yang Allah katakan, segala sesuatu ada di sana, berbeda dengan Mafatih al Ghaib.
Dari sini jelas bahwa kitab mubîn berbeda dengan Mafatih al-Ghaib yang ada di sisi Allah, sebab Allah menyifati mafatih ini sebagai sesuatu yang tanpa batasan dan tidak ada limitnya (infiniti).
Untuk memahami permasalahan ini lebih baik, kami akan menyebutkan contohnya. Diumpamakan seseorang memiliki kekayaan yang berlimpah ruah dan tidak terbatas. Kemudian ia memberikan pada seseorang sebanyak satu juta tuman (mata uang Iran, setara dengan satu juta rupiah). Pada waktu yang lain sebanyak lima ratus tuman dan pada yang lain lagi seribu tuman. Angka-angka ini membatasi asal kekayaan yang melimpah ruah, padahal asetnya sendiri tidak memiliki jumlah dan batasan. Demikian juga dengan ilmu, ilmu yang tak terbatas menjadi seperti terbatas ketika diberikan kepada yang lain dalam kapasitasnya.
Mafatih al Ghaib adalah ilmu yang tidak terbatas dan kekayaan-Nya tidak terbatas. Ketika diturunkan ilmunya, maka ketika itu menjadi terbatas.
Jadi hanya Allah yang mengetahui Mafatih al Ghaib, “Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab mubîn Dan telah kami sebutkan bahwa kitab al mubin berbeda dengan Mafatih al Ghaib.
Hirarki Eksistensi
Untuk keterangan yang lebih jelas, maka haruslah dikatakan bahwa wujud memiliki tiga tingkatan: satu tingkatan adalah khazanah ghaib yang diistilahkan dengan Mafatih al Ghaib dan ‘tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri’. Tingkatan kedua adalah Kitab al Mubîn di dalamnya sesuatu dan keberadaan memiliki kadar ukuran dan ketentuan serta penetapan dan tertulis.
Untuk lebih memahami permasalahan ini, kita dapat berikan contoh. Diumpamakan seorang insinyur ingin membangun sebuah gedung yang besar dan ia memiliki seluruh ilmu tentang bangunan ini yang tidak dimiliki oleh orang lain. Ia ingin membangunnya dalam beberapa tahap.
Pada tahap pertama, ia merancang arsitektur bangunan itu di atas kertas. Setelah cocok dengan denahnya barulah memulai membangun. Dan jka struktur bangunan itu hancur karena suatu hal, maka denah bangunan itu masih tergambar. Seperti inilah alam. Sebelum alam diciptakan, seluruh denah (hakekat alam) berada di sisi ilmu-Nya. Tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Sebagian rancangan yang ingin dibentuk itu disimpan oleh Tuhan dalam suatu tempat yang dinamakan Kitab al Mubîn. Sesuai dengan kitab mubîn inilah muncul segala keberadaan dengan segala aturan dan kapasitasnya di alam ini. Oleh karena itu, jika apa yang ada di alam raya ini musnah, maka yang ada di kitab mubin tetap terpelihara.
Tuhan menciptakan kitab mubîn bukan berarti memerlukannya, tapi agar menjadi sumber ilmu bagi para nabi dan imam untuk mengetahui apa yang sudah terjadi dan apa yang akan datang. Oleh karena itu, para imam dan nabi memiliki kemampuan mengabarkan kejadian masa lalu dan yang akan datang lewat Kitab al Mubîn ini.
Ayat-ayat yang Berkenaan dengan Kitab al-Mubîn
Dalam beberapa surah terdapat ayat-ayat yang menyebutkan nama Kitab al Mubîn. Maka kami akan mengkaji sebagian ayat-ayat ini. Ayat yang pertama adalah: “Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lawhmahfûz).” (QS. Yunus: 61). Atau surat Saba’ yang ibaratnya hampir sama, “Tidak ada tersembunyi daripada-Nya seberat zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lawhmahfûz)" (QS. Saba [34]:3). Atau dalam surat Yasin, ayat dijelaskan: “Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lawhmahfûz).” (QS Ya Sin [36]: 12). Dalam ayat lain disebutkan: “Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab (Lawhmahfûz) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah” (Az-Zukhruf: 4). Ayat lain dalam surat Tha Ha’ yang mana Fir’aun bertanya kepada Nabi Musa: Berkata Firaun: "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?" Musa menjawab: "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa.” (QS Tha Ha: 51-52).
Yang jelas, seperti yang telah kami katakan, berbagai makna ‘Kitab al Mubîn’ terdapat di dalam al-Quran seperti: Lauh mahfûzh, Ummul Kitab dan Imam al-Mubîn. Masing-masing memiliki makna. Jika dikatakan sebagai Lauh mahfûzh, adalah suatu tempat yang telah ditetapkan dan tidak akan berubah dan hilang. Jika dikatakan sebagai Ummul Kitab, adalah akar dari seluruh hakekat dan jika dikatakan sebagai Kitab al- Mubîn karena yang menjelaskannya.
Kisah Singgasana Balqis dan Pentingnya Kitab al-Mubîn
Posisi dari Kitab al-Mubîn ini sangatlah signifkan. Untuk menjelaskan pentingnya Kitab al-Mubîn itu, kita bisa merefleksikan kisah Nabi Sulaiman yang mendatangkan tahta Balqis (Kisah ini tercantum pada surat An-Naml: 20-43): Kemudian Hudhud mengabarkan tentang kerajaan Balqis kepada Nabi Sulaiman dan berkata: “ …serta mempunyai singgasana yang besar” (QS An-Naml: 23). Nabi Sulaiman berkata: “Mereka akan segera datang dan kita akan menyambut kedatangan mereka. Sebelum kedatangan mereka, siapa di antara kalian yang mampu secara cepat mendatangkan singgasananya dari Yaman ke Baitul Muqaddas? Ifrit dan seorang pembesar dari bangsa jin mengatakan bahwa saya memiliki ilmu dan melalui pemanfaatan ilmu tersebut, saya mampu selama waktu engkau akan berdiri dari tempat dudukmu dan sebelum engkau berdiri, saya akan mendatangkan singgasana itu untukmu.
Nabi Sulaiman, dikarenakan beliau seorang nabi, memiliki kemampuan yang lebih dari hal ini dan mengatakan bahwa hal ini tidak cepat (lambat). Seseorang yang memiliki satu ilmu dari al-kitab tersebut mengatakan: “Saya pada jarak ini, saya akan melakukan perkara ini sebelum pandanganmu berkedip.” Dan ia melakukannya. Di sini timbul pertanyaan apa yang dimaksud dengan ilmu dari kitab tersebut sehingga denganya ia bisa melakukan sesuatu yang luar biasa (extaordinary things) tersebut?
Seperti yang telah kami paparkan bahwa seluruh ilmu berasal dari Kitab al-Mubîn. Dan manusia bisa memperoleh sebagian kecil saja dengan kerja keras. Andaikan saja seorang manusia memiliki ilmu asalnya, maka ia akan memiliki kemampuan yang luar biasa. Misalkan jika seseorang ingin ke sebuah tempat maka bisa menempuhnya dalam waktu yang sangat singkat sekali.
Ilmu Ali bin Abi Thalib as
Imam Shadiq as mengatakan yang dimaksud dengan hadis “shahibukum ‘indahu ‘ilmu kitab, sahabat kalian yang memiliki ilmu kitab, adalah Ali as, dengan dalil ayat al-Quran yang menyebutkan: "Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu dan antara orang yang mempunyai ilmu al- Kitab". (QS Ar-Ra’d [13]: 43). Katakanlah: Wahai Nabi! Saya tidak membutuhkan kalian untuk membenarkan atas agama kalian. Agama ini adalah petunjuk bagi kalian. Cukuplah Allah dan sahabat kalian yang memiliki ilmu al-Kitab menjadi saksi atas kebenaran agama dan kenabianku.
Dalam hal ini, siapa ‘yang memiliki ilmu al-Kitab’ ? Apakah ia seorang Yahudi atau Nasrani? Apakah yang dimaksud adalah kitab Taurat dan Injil? Padahal yang kita ketahui bahwa mereka mengingkari kenabian Muhammad saw. Oleh karena itu, Imam Ja’far Shadiq as mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘yang memiliki ilmu al-Kitab’ Adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Asif bin Barkhiya’ yang hanya memiliki secuil dari bagian ilmu al-Kitab mampu memindahkan singgasana Balqis dalam sekejap mata. Lalu bagaimana dengan Amirul Mukminin as yang memiliki seluruh isi ilmu al-Kitab?!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar