Senin, 28 Maret 2011

tugas kuliah

BAB II


PEMBAHASAN


Kepemimpinan Pada Masa Bani Umayyah Dan
Bani Abasiyah


1.      Kepemimpinan Pada Masa Bani Umayyah



Kerajaan Bani Umayyah
didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 41 H/661 M di Damaskus dan
berlangsung hingga pada tahun 132H/750 M.Muawiyah bin Abu sufyan adalah seorang
politisi handal di mana pengalaman politiknya sebagai gubernur Syam pada masa
khalifah Utsman bin Affan cukup mengantar dirinya mampu mengambil alih
kekuasaan dari gegaman keluarga Ali bin Abi Thalib.Tepatnya setelah Husein putra
Ali bin Thalib dapat dikalahkan oleh Umayyah dalam mencapai puncaknya di zaman
Al – Walid.


Memasuki masa kekuasaan
muawiyyah yang menjadi awal kekuasaan bani umayyah, yang bersifat demokrasi
berubah menjadi monarki heredetis ( kerajaan turun temurun). Kekhalifahan
muawiyah diperoleh melalui kekerasan, diplomasi, dan tipu daya , tidak dengan
pemilihan atau kekuasaan bani Umayyah berumur kurang lebih sembilan puluh
tahun. Ibu kota negara dipindahkan dari muawiyah dimadinah ke Damaskus, tempat
ia berkuasa sebagai gubernur sebelumnya.


Ada beberapa faktor yang
menyebabkan dinasti bani Umayyah menjadi lemah, yaitu:


1.      Sistem pergantian khalifah melalui garis
keturunan adalah sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan pada
aspek senioritas.


2.      Latar belakang terbentuknya Dinasti Bani
Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi dimasa
Ali.


3.      lemahnya bani Umayyah yang disebabkan oleh
adanya sikap hidup yang mewah dilingkungan istana, sehingga anak-anak khalifah
tidak sanggup untuk memikul beban berat kenegaraan saat mereka mewarisi
kekuasaan.


4.      munculnya kekuasaan baru yang dipelopori
oleh keturunan Al-Abas Ibnu Al- Mutolib.





Keluarga ini berdiri di
Damaskus.Dalam kerajaan ini terdapat satu kekuasaan yang mengembangkan agama,
ilmu pengetahuan, kesenian dan perperangan.Dengan sndirinya kerajaan Islam
tambah luas dan semangkin banyak pula orang yang menganut Islam dengan
keinginan sendiri tanpa paksaan. Kerajaan Umayyah ini telah memperluaskan
sayapnya ketengah Asia sampai ke negeri cina dan merayat pula ke Afrika Utara,
terus ke Andalusia.


Usaha merintis jalan hidup
Islam yang disesuaikan dengan kemajuan alamiyah di dalam satu kesenian campuran
yang menjadi keistimewaan sejarah kebudayaan Islam adalah merupakan
keistimewaaan kerajaan Bani Umayyah misalnya Masjid Amawi (Al – Jami'ul Amawy)
di Damaskus yang didirikan oleh Al – Walid bin Abdul Malik (86 – 96 H/705 –
715) antara tahun 88 dan 96 H yang berarti dalam masa delapan tahun lamanya
dengan biaya sangat besar dan tenaga yang sangat besar dan tenaga yang tidak
sedikit.


Masa pemerintahan Bani Umayyah
dikenal sebagai suatu era agresif, karena banyak kebijakan politiknya yang
bertumpu kepada usaha perluasan wilayah dan penaklukan.Hanya dalam jangku waktu
90 tahun, banyak bangsa yang masuk kedalam kekuasaannya.Daerah – daerah itu
meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina Jazirah Arab, Iraq, Persia,
Afganistan, Pakistan, Uzbekistan dan wilayah Afrika Utara sampai Spanyol.Namun
demikian, Bani Umayyah banyak berjaa dalam pembangunan berbagai bidang, baik
politik, sosial, kebudayaan, seni, maupun ekonomi dan militer, serta teknologi
komunikasi.Dalam bidang yang terakhir ini, Muawiyah mencetak uang, mendirikan
dinas pos dan tempat – tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan
peralatannya disepanjang jalan, beserta angkatan bersenjatanya yang kuat.


Keberhasilan Muawiyah
mendiirikan Dinasti Umayyah bukan hanya akibat dari kemenangan terbunuhnya Khalifah
Ali, akan tetapi ia memiliki basis rasional yang solid bagi landasan pembangunan
politiknya dimasa depan.Adapun faktor keberhasilan tersebut adalah:


1.   Dukungan yang kuat dari raktay Syria dari
keluarga Bani Umayyah.


2. Sebagai
administrator, Muawiyah mampu berbuat secara bijak dalam menempatkan para
pembantunya pada jabatan – jabatan penting.


3.   Muawiyah memiliki kemampuan yang lebih
sebagai negarawan sejati, bahkan mencapai tingkat hilm) sifat tertinggi
yang dimiliki oleh para pembesar Mekkah zaman dahulu, yang mana seorang manusia
hilm seperti Muawiyah dapat menguasai diri secara mutlak dan mengambil
keputusan – keputusan yang menentukan, meskipun ada tekanan dan intimidasi.


Walupun Muawiyah mengubah
sistem pemerintahan dari muywarah menjadi monarki. Namun Dinasti ini tetap
memakai gelar khalifah.Namun ia memberikan interprestasi baru untuk
mengagungkan jabatan tersebut.Dia menyebutnya "Khalifah Allah" dalam pengertian
"penguasa" yang diangkat Allah SWT, siapa yang menentangnya adalah kafir
Pulungan, 1997:1967 – 1968).


Dengan kata lain pemerintahan
Dinasti Bani Umayyah bercorak teokratis, yaitu penguasa yang harus ditaati
semata – mata karena imam.Seseorang selama menjadi mukmin tidak boleh melawan
khalifahnya, sekalipun ia beranggapan bahwa khalifah adalah seseorang yang
memusuhi agama Allah dan tindakan – tindakan khalifah tidak sesuai  dengan hukum – hukum syariah.Dengan demikian,
meskipun pemimpin dinasti ini menayatakan sebagai khalifah akan tetapi dalam
prakteknya memimpin umat Islam sama sekali berbeda dengan khalifah yang tepat
sebelumnya, setelah Rasulullah.


Sekalipun masa kerajaan
Umayyah ini banyak segi negatifnya, namun dari ilmiah, bahasa, sastra dan
lainnya tetap menonjol dan mengambil kedudukan yang layak.Bangsa Arab adalah
ahli syair dan para penggemarnya rakyat dan orang – orang kaya memberikan
kedudukan khusus bagi para penyair itu dengan memberikan hadiah yang cukup
besar dan memuaskan.


Pada masa Bani Umayyah
berbagai bidang ilmu pengetahuan telah berkembang misalnya ilmu kedokteran,
ilmu kimia, ilmu sejarah, disamping ilmu – ilmu lainnya.Kerajaan Umayyah
berdiri atas dasar kefanatikan Arab, hingga buku – buku sastra dan bahasa Arab
lebih banyak dari pada bidang – bidang lain, sekalipun cukup memadai.Hal ini
dapat dimengerti karena mereka lebih menonjolkan sejarah hidup mereka sendiri
dan lebih membanggakan kebangsaan Arab sedangkan warga kerajaan terdiri dari
segala keturunan bangsa.Dr.Fuad Mohd.Facruddin, penerbit Bulan Bintang, Jakata,
85)


2.      Kepemimpinan Pada Masa Bani Abbasiyah



Kerajaan Abasiyah yang
berkedudukan di Bagdad, merupakan satu kerajaan yang dinisabkan kepada Abdul
Abbas paman Rasulullah SAW.Kerajaan ini terdiri atas 37 raja yang susul
menyusul.Pada masa kerajaan ini, Islam mempunyai puncak kejayaannya disegala
bidang kehidupan dan merupakan satu kerajaan Islam yang paling panjang umurnya
menurut menurut pendapat mereka kerajaan ini adalah penerus dan penyambung dari
keluarga Rasulullah SAW.Setelah Rasulullah wafat, merekalah yang berhak
menerima warisan kekuasaan dalam pemerintahan sebab Abbas adalah paman
Rasulullah SAW dan berhak mewarisi Rasulullah SAW, mereka berpendapat, bahwa
yang berhak mendapat hak warisan adalah pihak keturunan lelaki sedangkan wanita
tidak berhak mendapatkannya.Umur kerajaan ini lima kali lipat dari umur
kerajaan Umayyah.Sebenarnya kerajaan Abasiyah ini pada mulanya merupakan satu
kekuatan yang dipimpin oleh Abdul Abbas As – Saffah (132 – 136 H/750 -754 M)
yang berkedudukan di Irak, supaya dengan Iran Persia yang berjasa dalam
mendirikan kerajaan ini.


Kekuasaan dinasti Bani Abas
atau kahlifah Abbasiyah adalah melanjutkan kekuasaan dinasti bani Umayyah.


Pada masa pemerintahan bani
Abbas ini dibagi menjadi lima periode ( Bojena Gajani Stayzewska, tt: 360)
yaitu :


1.      Periode pertama ( 132 H / 750 M- 232 H/
847 M) periode pengaruh persia satu.


2.      periode kedua (232 H/ 847 M- 334 H /945 M)
periode pengaruh turki satu.


3.      Periode ketiga (344 H/945 M -447H /1055 M)
periode pengaruh persia dua.


4.      Periode keempat ( 447 H/ 1055 M- 590
H/1194 M) periode pengaruh turki kedua.


5.      Periode kelima ( 590 H/ 1194 M- 656 H/1258
M) periode pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif disekitar
kota Baghdad.


Pada periode pertama
pemerintahan bani Abbas mencapai masa keemasannya ke makmuran rakyat mencapai
tingkat tinggi. Pada periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi
perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam namun setelah periode
ini berakhir pemerintahan bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik
meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.


Pada pemerintahan bani
Abbasiyah ini, berbeda dari daulau bani Umayyah, bahkan Khalifah-khalifa
Abbaslah memakai " gelar tahta". Dengan gelar ini lebih populer dari nama yng
sebenarnya.


Dalam bidang pendidikanpun
sudah berkembang dan lembaga pendidikannya terdiri dari dua tingkat yaitu :


1.      Maktab atau kutup yaitu lembaga pendidikan
terendah tempat anak-anak mengenal pendidikan dasar.


2.      Para pelajar yang ingin memperdalam
ilmunya pergi keluar daerah.


Pada masa pemerintahan, masing
– masing memiliki berbagai kemajuan dari beberapa bidang, diantaranya bidang
politik, bidang ekonomi, bidang sosial.Pada masing – masing bidang memiliki
kelebihan dan kekurangan.


1.      Bidang Politik



Walaupun
demikian, dalam priode banyak tantangan dan gerakan politik yang menggangu
stabitas, baik dari kalangan Abbas sendiri maupun dari luar.Gerakan – gerakan
ini seperti sisa – sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas, revolusi
al – khawarij di Afrika Utara, gerakan Zindik di Persia, gerakan Syi'ah dan
konflik antar bangsa serta aliran pemikiran keagamaan, semuanya dapat
dipadamkan.


2.      Bidang Ekonomi



Pada masa al
– Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian,
melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga
dan besi.Terkecuali itu dagang transit antara timur dan barat juga banyak
membawa kekayaan.Bahsrah menjadi pelabuhan yang penting.


3.      Bidang Sosial



Popularitas
daulat Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khulifah Harun Al – Rasyid (786 –
809 M) dan puteranya Al – Ma'mun (813 – 833 M).kekayaan yang banyak
dimanfaatkan Harun Al – Rasyid untuk keperluan sosial.Rumah sakit, lembaga
pendidikan, dokter dan farmasi didirikan.Pada masanya sudah terdapat paling
tidak 800 orang dokter.Disamping itu pemandian – pemandian juga
dibangun.Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini,
kesjahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan
serta kesastaan berada pada zaman keemasannya.


Pemerintah Bani Umayyah adalah
pemerintahan yang memiliki wibawa yang besar sekali, meliputi wilayah yang amat
luas, mulai dari negeri Sind dan berakhir di negeri Spanyol.Ia demikian kuatnya
sehingga apabila seseorang menyaksikannya, pasti akan berpendapat bahwa usaha
mengguncangkannya adalah sesuatu yang tidak mudah bagi siapapun.Namun jalan
yang ditempuh oleh pemerintahan Bani Umayyah, meskipun ia dipatuhi oleh
sejumlah besar manusia yang takluk kepada kekuasaannya, tidak sedikitpun
memperoleh penghargaan dan simpati dalam hati mereka.Itulah sebabnya belum
sampai berlalu satu abad dari kekuasaan mereka, kaum Bani Abbas berhasil menggulingkan
singgasananya dan mencapakkannya dengan mudah sekali.Dan ketika singgasana itu
terjatuh, demikian pula para rajanya, tidak seorangpun yang meneteskan air mata
menangisi mereka.Adapun penyebab keberhasilan kaum penganjur berdirinya
Khalifah Bani Abbas ialah karena mereka berhasil menyadarkan kaum muslimin pada
umumnya, bahwa Bani Abbas adalah keluarga yang paling dekat kepada Nabi
Muhammad SAW dan bahwasanya mereka akan mengamalkan al – Qur'an dan As – Sunnah
Rasul SAW dan menegakkan syari'at Allah.

































































BAB III


KESIMPULAN


Sebelum Nabi Muhammad SAW
wafat, beliau menyerahkan pemilihan pemimpin pada kaum muslimin, merekalah yang
berhak memilihnya.Karena itulah tidak lama setelah beliau wafat sejumlah tokoh
muhajirin dan anshor berkumpul di kota Banu Sa'idah Madinah.Mereka bermusyawarahkan siapa yang akan dipilih
menjadi pemimpin, dengan semangat ukhwah Islamiah yang tinggi akhirnya Abu
Bakar terpilih menjadi Khalifah.


Setelah Abu Bakar menjadi
khalifah selama dua tahun, beliau meninggal dunia dan kedudukannya digantikan
oleh Umar yang memerintah selama sepuluh tahun, masa jabatannya berakhir dengan
kematiannya.Lalu kedudukannya digantikan oleh Utsman yang berlangsung selama
dua belas tahun, setelah Utsman wafat masyarakat beramai – ramai membai'at Ali
Ibnu Abi Thalib
























































DAFTAR PUSTAKA


Hawi
Akmal, Kepemimpinan Dalam Islam, Palembang: IAIN Raden Fatah, Press,
2007.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar