Al-Hamdulillah puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan taufiknya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul ISLAM DI MADURA, mata kuliah SEJARAH PERADABAN ISLAM atas bimbingan Bapak Riza Anami, S.Th.I.,M.Si.
Dalam penulisan ini penulis dengan rendah hati menyadari betul isi materi maupun rangakaian kata masih jauh dari sempurna. Maka semua kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan dari pembaca demi sempurnya makalah ini,
Pada kesempatan kali ini, penulis menyampaikan banyak terimakasih kepada pihak yang ikut membantu dalam proses pembuatan makalah ini. Dan akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat berguna menembah wawasan tentang ISLAM DI MADURA baik bagi penulis pada khususnya, maupun pembaca pada umumnya. Ironis sekali kalau kita sebagai orang madura tidak mengetahui tentang ISLAM DI MADURA.
Sumenep, 1 pebruari 2011
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Religiusitas masyarakat etnik Madura telah dikenal luas sebagai bagian dari keberagamaan kaum muslimin Indonesia yang berpegang teguh pada tradisi (ajaran?) Islam dalam menepak realitas kehidupan sosial budayanya. Kendati pun begitu, kekentalan dan kelekatan keberislaman mereka tidak selalu mencerminkan nilai-nilai normatif ajaran agamanya. Kondisi itu dapat dipahami karena penetrasi ajaran Islam ─ yang dipandang relatif berhasil ─ ke dalam komunitas etnik Madura dalam realitasnya berinteraksi (tepatnya, to be interplay) dengan kompleksitas elemen-elemen sosiokultural yang melingkupinya, terutama variabel keberdayaan ekonomik, orientasi pendidikan, dan perilaku politik. Hasil penetrasi Islam ke dalamnya kemudian menampakkan karakteristik tertentu yang khas dan ─ sekaligus juga ─ unik.
Oleh karena itu, pemahaman dan penafsiran atas ajaran Islam normatif pada warga etnik Madura pada perkembangannya berjalan seiring dengan kontekstualitas konkret budayanya yang ternyata sangat dipengaruhi ─ jika tidak dikatakan bermuatan heretical ─ oleh lingkup lokalitas dan serial waktu yang membentuknya (Rahman, 1994: 141). Dalam perwujudannya, keberagamaan etnisitas komunal itu ternyata menampakkan diri dalam bentuk local tradition di mana Islam sebagai great tradition (ajaran dan praksis normatif) membentuk konsepsi tentang realitas yang mengakomodasi kenyataan sosiokultural masyarakatnya atau komunitas yang dibentuknya itu (Azra, 1999: 12). Kehadiran dan keberadaan Islam ke dalam suatu entitas sosial budaya telah menjadi “gerakan aktual-kultural” yang mengakomodasi dialog dalam/dengan beragam segmentasi kehidupan sehingga wajah Islam normatif dimungkinkan mengalami perubahan walaupun pada sisi periferalnya.
2.Tujuan Maslah
Tujuan dari penulis makalah ini adalah untuk mengupas dan manambah wawasan tentang islam di maduara serta tokoh-tokohny yang ikut seta dalam penyabaran islam.
3.Manfaat
a. Bagi Penulis
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan dalam memahaimi suatu permasalan dan maenjaelaskan suatu pembahasan secara teratur hingga tercapai hingga suatu kesimpulan yang dapat di pertanggung jawabkan.
b. Bagi Pembaca
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang islam dalam pembahasan topik yang terkandung dlm makalah ini.
PEBAHASAN
Sejarah masuknya islam di madura
Pulau maduraterletak di timur laut pulau Jawa kurang lebih (±70) sebelah Selatandari katulistiwa di antara 110 dan 1140 bujur timur. Pulau itu dipisahkan dari pulau Jawa oleh selat Madura yang menghubungkan laut Jawa dan laut Bali. Pulau Madura yang memanjang ±60 km , dan melebar ±40 km, dan luasnya 5.304 km2 adalah daerah minus, tandus, berpenduduk padat dan merupakan daratan tidak ada gunung-gunung yang berarti.
Pulau ini terdiri dari ± 60 pulau besar dan kecil dan terdapat Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep, serta Pamekasan sebagai pusat kota atau karisidenan Madura. Untuk mengadakan komunikasi atau hubungan dengan pulau Jawa, Kalimantan, Bali, dan lain-lain, dengan jalan laut melalui pelabuhan Kamal yang terletak sebelah selatan Bangkalan dan pelabuhan Kalianget yang terletak sebelah timur Madura (Sumenep).
Seperti yang kita ketahui agama Islam masuk ke Nusantara melalui jalus perdagangan yang dibawa oleh para pedagang Gujarat, Pesisir Daya India. Ada dua pendapat yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara yaitu pada abad ke VII dan XIII. Pada abad pertama Hijriyah atau sekitar abad VII dan VIII M Islam mulai masuk ke Nusantara, karena pada abad ini kerajaan Sriwijaya berusaha untuk mengembangkan kekuasaannya, selat Malaka sudah mulai dilalui oleh pedagang-pedagang muslim dalam pelayarannya ke negeri-negeri di Asia Tenggara dan Asia Timur. Berdasarkan berita Cina zaman dinasti T’ang, pada abad tersebut diduga masyarakat muslim telah ada baik di Kanfu (Kantor) maupun di daerah Sumatra sendiri.
Begitu juga di pulau Jawa, Islam masuk dibawa oleh saudagar-saudagar dari Gujarat. Jadi Islam masuk bertalian erat dengan perdagangan. Agama Islam masuk ke pulau Jawa bersamaan dengan runtuhnya kerajaan Majapahit. Sejak kerajaan Majapahit mengalami kemunduran, di Sumatera Utara telah berdiri kerajaan Islam yang pertama seperti kerajaan Pasai, Perlak dan lain-lain. Sementara itu Islam datang dengan menawarkan persamaan-persamaan, tidak seketat ajaran agama Hindu maupun Budha. Islam yang masuk ke Jawa berasal dari Persia dan India yang sudah bersifat Islam tasawuf, sehingga cocok sekali dengan orang Jawa, yang sudah terbiasa dengan kehidupan mistik.
Peranan wali songo dalam penyebaran agama, mereka sangat besar peranannya dalam proses islamisasi di Jawa. Wali-wali yang tertua terdapat di Jawa Timur, karena Islam itu datangnya lewat perdagangan. Dengan dekimian pusatnya terletak di pelabuhan-pelabuhan seperti Surabaya, Tuban, Gresik dan lain-lain.
Seperti halnya daerah-daerah lain, di nusantara, maka pulau Madura yang secara geografis terletak di dekat atau berhadapan dengan kota-kota pelabuhan di Jawa Timur yaitu pelabuhan Tuban, Gresih dan Surabaya tidak terlepas dari usaha penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh para wali di pulau Jawa. Sunan Giri yang nama aslinya Raden Paku merupakan murid sunan Ampel. Karena tempat tinggalnya di bukit (Giri) di Gresik, maka ia terkenal dengan nama Sunan Giri. Yang telah di-Islam-kan ialah Madura, Lombok, Makasar, Hitu dan Ternate.
Tetapi jauh sebelum itu sudah banyak pedagang-pedagang Islam (misal:dari Gujarat) yang singgah di pelabuhan pantai Madura, terutama di pelabuhan Kalianget (Sumenep). Karena adanya aksi dan interaksi serta komunikasi antara penduduk asli dengan para pedagang sebagai pendatang tentu membawa pengaruh terhadap kebudayaan dan kepercayaan mereka. Diceritakan bahwa di suatu daerah di dekat desa Parsanga di Sumenep datang seorang penyiar agama Islam. Ia memberikan pelajar agama Islam kepada rakyat Sumenep. Apabila seorang santri telah dianggap dapat melakukan rukun agama Islam, maka ia dimandikan dengan air yang dicampuri bermacam-macam bunga yang baunya harum, hal semacam ini disebut “e dudus”, tempat tersebut diberi nama desa Padusan masuk kota Sumenep dan Guru yang mengajar tersebut diberi nama “Sunan Padusan”. Beliau keturunan dari Arab, ayahnya bernama Usman Haji, anak dari raja Pandita, saudara dari Sunan Ampel. Pada waktu itu rakyat Sumenep sangat senang mempelajari agama Islam, sehingga mempengaruhi rajanya yaitu Pangeran Joktole (Surodiningrat III) masuk agama Islam.
Penyebaran agama Islam ini terus meluas tidak hanya di pantai-pantai pulau Madura, tetapi juga sampai ke pelosok-pelosok desa. Jadi Islam masuk ke Madura yaitu di Sumenep pada awal abad XV dan di Bangkalan Islam masuk pada abad XVI tepatnya di Arosbaya.
Akhirnya Islam di Madura berkembang pesat, karena itu penduduk Madura hingga kini boleh dikatakan 99% atau mayoritas beraga Islam.
Pulau ini terdiri dari ± 60 pulau besar dan kecil dan terdapat Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep, serta Pamekasan sebagai pusat kota atau karisidenan Madura. Untuk mengadakan komunikasi atau hubungan dengan pulau Jawa, Kalimantan, Bali, dan lain-lain, dengan jalan laut melalui pelabuhan Kamal yang terletak sebelah selatan Bangkalan dan pelabuhan Kalianget yang terletak sebelah timur Madura (Sumenep).
Seperti yang kita ketahui agama Islam masuk ke Nusantara melalui jalus perdagangan yang dibawa oleh para pedagang Gujarat, Pesisir Daya India. Ada dua pendapat yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara yaitu pada abad ke VII dan XIII. Pada abad pertama Hijriyah atau sekitar abad VII dan VIII M Islam mulai masuk ke Nusantara, karena pada abad ini kerajaan Sriwijaya berusaha untuk mengembangkan kekuasaannya, selat Malaka sudah mulai dilalui oleh pedagang-pedagang muslim dalam pelayarannya ke negeri-negeri di Asia Tenggara dan Asia Timur. Berdasarkan berita Cina zaman dinasti T’ang, pada abad tersebut diduga masyarakat muslim telah ada baik di Kanfu (Kantor) maupun di daerah Sumatra sendiri.
Begitu juga di pulau Jawa, Islam masuk dibawa oleh saudagar-saudagar dari Gujarat. Jadi Islam masuk bertalian erat dengan perdagangan. Agama Islam masuk ke pulau Jawa bersamaan dengan runtuhnya kerajaan Majapahit. Sejak kerajaan Majapahit mengalami kemunduran, di Sumatera Utara telah berdiri kerajaan Islam yang pertama seperti kerajaan Pasai, Perlak dan lain-lain. Sementara itu Islam datang dengan menawarkan persamaan-persamaan, tidak seketat ajaran agama Hindu maupun Budha. Islam yang masuk ke Jawa berasal dari Persia dan India yang sudah bersifat Islam tasawuf, sehingga cocok sekali dengan orang Jawa, yang sudah terbiasa dengan kehidupan mistik.
Peranan wali songo dalam penyebaran agama, mereka sangat besar peranannya dalam proses islamisasi di Jawa. Wali-wali yang tertua terdapat di Jawa Timur, karena Islam itu datangnya lewat perdagangan. Dengan dekimian pusatnya terletak di pelabuhan-pelabuhan seperti Surabaya, Tuban, Gresik dan lain-lain.
Seperti halnya daerah-daerah lain, di nusantara, maka pulau Madura yang secara geografis terletak di dekat atau berhadapan dengan kota-kota pelabuhan di Jawa Timur yaitu pelabuhan Tuban, Gresih dan Surabaya tidak terlepas dari usaha penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh para wali di pulau Jawa. Sunan Giri yang nama aslinya Raden Paku merupakan murid sunan Ampel. Karena tempat tinggalnya di bukit (Giri) di Gresik, maka ia terkenal dengan nama Sunan Giri. Yang telah di-Islam-kan ialah Madura, Lombok, Makasar, Hitu dan Ternate.
Tetapi jauh sebelum itu sudah banyak pedagang-pedagang Islam (misal:dari Gujarat) yang singgah di pelabuhan pantai Madura, terutama di pelabuhan Kalianget (Sumenep). Karena adanya aksi dan interaksi serta komunikasi antara penduduk asli dengan para pedagang sebagai pendatang tentu membawa pengaruh terhadap kebudayaan dan kepercayaan mereka. Diceritakan bahwa di suatu daerah di dekat desa Parsanga di Sumenep datang seorang penyiar agama Islam. Ia memberikan pelajar agama Islam kepada rakyat Sumenep. Apabila seorang santri telah dianggap dapat melakukan rukun agama Islam, maka ia dimandikan dengan air yang dicampuri bermacam-macam bunga yang baunya harum, hal semacam ini disebut “e dudus”, tempat tersebut diberi nama desa Padusan masuk kota Sumenep dan Guru yang mengajar tersebut diberi nama “Sunan Padusan”. Beliau keturunan dari Arab, ayahnya bernama Usman Haji, anak dari raja Pandita, saudara dari Sunan Ampel. Pada waktu itu rakyat Sumenep sangat senang mempelajari agama Islam, sehingga mempengaruhi rajanya yaitu Pangeran Joktole (Surodiningrat III) masuk agama Islam.
Penyebaran agama Islam ini terus meluas tidak hanya di pantai-pantai pulau Madura, tetapi juga sampai ke pelosok-pelosok desa. Jadi Islam masuk ke Madura yaitu di Sumenep pada awal abad XV dan di Bangkalan Islam masuk pada abad XVI tepatnya di Arosbaya.
Akhirnya Islam di Madura berkembang pesat, karena itu penduduk Madura hingga kini boleh dikatakan 99% atau mayoritas beraga Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar